Showing posts with label Curhat Berencana. Show all posts
Showing posts with label Curhat Berencana. Show all posts

Thursday, February 6, 2014

Curcol

Halo!

Ah, aku sudah "ngambang" berapa bulan yak. Tapi, ujung-ujungnya sih gak ada perubahan yang signifikan juga. aku tetap gini-gini aja. Well, sebenernya aku sendiri udah pernah janji gak bakal curcol di blog sendiri. Tapi entahlah, kali ini berbeda. Banyak hal yang terjadi di banyak bulan sebelum ini, dan itu sangat menyebalkan. Yah, setidaknya itu buat aku sendiri. Bagian yang paling menyebalkan adalah, sudah tahu bermasalah pada diri sendiri, tapi tetap aja seperti ini, gak ada perubahan, bahkan parahnya lebih memilih kabur dari kenyataan. Iya, itu aku.

Sumpah. Kabur dari kenyataan itu enak banget. Sayang, enak bangetnya dibuntutin perasaan bersalah. Parahnya, aku seakan gak peduli gitu sama perasaan bersalah itu. Pecundang? Pengecut? Emang.

Entahlah, aku masih bisa disebut pria yang proper atau gak, pria yang baik dan bertanggung jawab atau gak. Statusnya yang lebih pas aku adalah.. Ah, terserah kamu yang sudah melihat aku akhir-akhir ini.

Skripsi? Ah, tambahnya. Aku lebih memilih menghilang dari kampus. Aku memang brengsek. Dosa sama orang tua. Tapi, mau apa? Aku gak sedikitpun merasa bersalah, eh, bohong, aku punya perasaan bersalah. Tapi lagi-lagi kabur dari kenyataan bisa membuatku sedikit lupa rasa bersalah tersebut. Hebat, kan?

Aku cuma bisa menghambur-hamburkan uang orang tuaku, padahal ya orang tuaku bukan orang yang kaya. Brengsek, kan?

Aku dulu pernah berpikir, mungkin sekitar SMP atau SMA atau bahkan awal kuliah, aku lupa. Jadi begini, aku sempat berpikir aku ini orang yang "aman". Dimana "aman" ini berarti aku tuh aman dari omongan orang lain, yang berarti juga aku tuh orang yang baik-baik saja tanpa hal-hal yang jelek.

Karena aku gak pernah tuh ngedenger omongan-omongan orang lain tentang aku yang jelek-jelek. Aneh, kan? Atau emang aku seakan menutup telinga buat mendengar hal-hal yang seperti itu. Ah bukan gak pernah, aku jelas pernah denger yang jelek-jelek tapi sebenernya itu bukan hal yang menyebalkan, karena sifatnya sementara. Seperti, "Bentar itu orangnya suka telat." atau "Bentar itu kalo ngomong depan orang suka keringetan dan gak tegas". Jelek sih, tapi itu bukan hal yang menjengkelkan banget.

Masih "aman" menurutku sampai ketika di tingkat 2-3. Nah, sampai saat itu, aku sudah mulai sadar akan kejelekanku. Memang beberapa ada yang aku denger langsung, beberapa ada yang aku sadar sendiri setelah disindir-sindir, bahkan bagusnya aku sadar sendiri aku jelek disitu. Ah, ternyata memang manusia gak ada yang sempurna, ya.

Tapi, menurutku sebrengsek-brengseknya aku tuh ya akhir-akhir ini. Aku sebenernya pengen cerita, tapi aku bingung mau cerita darimana, soalnya banyak banget. Mungkin bisa pelan-pelan kujelaskan, tingkat kemalasan yang tinggi, komitmen yang lapuk, omongan tanpa filter, otak yang karatan, potensi yang disia-siakan, harapan yang terus-terusan dipalsukan, perasaan yang beku, hati yang entah kemana terbangnya. Kurang lebih seperti itulah aku. Mungkin bukan cuma aku yang akhir-akhir ini yang seperti itu. Tapi, mungkin memang seperti itulah aku yang sebenarnya.

Iya, aku merasa banyak kehilangan. Karena itulah aku menulis seperti ini. Terlalu banyak aku kehilangan. Aku tidak masalah kehilangan hal materi. Tapi ternyata aku telah kehilangan banyak hal ketika aku sedang kabur dari kenyataan seperti sebelumnya. Oya, mungkin saja aku masih dalam mode kabur dari kenyataan. Entahlah. Aku mulai kehilangan kepercayaan, aku mulai kehilangan, mungkin, teman, bahkan sahabat. Aku mulai kehilangan tujuan, aku mulai kehilangan cita-cita.

Aku.. Sudahlah..

Mungkin saja, atau mudahan saja, aku bisa berubah perlahan setelah menulis ini. Yang jelas ini benar-benar sudah membebaniku selama ini. Setiap orang punya masalah sendiri-sendiri. Orang tersenyum punya masalah, orang menangis jelas punya masalah, orang yang tidak berekspresi pun pasti punya masalah. Bagaimana masing-masing orang itu menyelesaikan masalah. Banyak pilihan yang terbentang dari ujung kepala ke ujung kaki. Dimana indra itu semua menjelaskan akan kemana kamu di dunia ini. Well, aku gak punya kepantasan untuk ngomong hal-hal yang kelihatannya bagus seperti ini.

Oya, aku ini orangnya agak tertutup sebenernya, tapi kalo ada yang mancing aku buat cerita, aku pasti bakal cerita banyak. Ah, ini semacam kode saja. Lupakan. Aku sudah 22 tahun dan masih seperti ini. Sungguh gak dewasa. Padahal ini adalah masa-masa krusial dimana pilihan banyak menentukan hidup ke depannya. Tapi, aku masih disini, stagnan, tidak berubah, bahkan memburuk, tapi hati kecilku berkata, aku masih punya harapan. Yah, doakan saja.

Untuk orang-orang yang tersakiti, untuk orang-orang yang melihatku kabur dari kenyataan, untuk orang-orang yang masih memikirkanku, untuk orang-orang yang sudah tidak peduli denganku. Beginilah aku. Aku mungkin bisa berubah, perlahan maupun cepat, atau bahkan aku tak bisa berubah, hanya dipoles dan dipercantik sedikit. Aku meminta maaf. 

Emang sih, percuma ngomong di sini. Bahkan aku terdengar alay, terdengar "Anjrit, Bentar alay beudh dah." atau bahkan aku menimbulkan rasa kasihan. Tenang saja, aku nulis seperti ini gak sama sekali berekspektasi untuk direspon. Aku hanya merasa aku butuh menulis ini untuk setidaknya membuka kancing kerah kemeja slim-fit paling atasku. 

Oya, bagi yang membaca. Yah, inilah aku apa adanya. Aku bahkan sempat berpikir di awal aku menulis ini bahwa gak percaya aku bisa berubah, karena memang kodratnya manusia itu adalah lupa. Mau berubah kemudian lupa, mau berubah kemudian lupa lagi, mau berubah akhirnya lupa. Begitulah seterusnya. Tapi, entahlah pikiranku berubah setelah di akhir-akhir tulisan ini. Mungkin saja aku bisa berubah. Mungkin. Setidaknya aku menambah probabilitas aku untuk berubah.

Oke. Aku akan kembali memakai topeng. Tapi, aku akan memilih topeng yang berbeda dari selama ini, oya aku punya beberapa topeng, atau mungkin bisa disebut banyak topeng. Walaupun sebenernya seringnya topeng yang aku pakai ini bisa luntur dengan cepat. Dan akhirnya aku pun terbaca dengan mudah. Well, topeng yang biasa aku pasang biasanya topeng yang bisa membuatku lupa. Hebat kan? Gak tahu deh, kalo yang sekarang aku pakai topeng yang mana.

Selamat pagi, dan selamat beraktifitas!

Wednesday, August 21, 2013

Yeah

Halo, guys!

Jadi, gini yaa. Ane abis kena sindir. Kena sindir sama orang yang baru pulang dari Jepang, namanya sebut saja Nadiya. Katanya blog ane rame pas bulan juni, tapi bulan juli agustus kosong melompong. Katanya ketawan bulan juni itu karena dikejar target. 

HAHA bener banget sih, emang mau leyeh-leyeh dulu dari dunia persilatan di kampung halaman. Selain emang koneksi internet di kampung halaman gak sebebas di negeri perantauan, juga entah pengen malas-malasan aja. Simpel.

Iya, mungkin kalian pada bingung (iya kali banyak yang baca, geer aja lu!) baca tulisan ane yang tiba-tiba dari yang gak jelas kehidupan sehari-hari yang gak lepas dari curcol, curhat colongan, jadi tulisan yang sedikit agak rapi. Mungkin bisa disebut tulisan selama bulan juni itu adalah cerpen fiksi. 

Iya guys, ane lagi belajar bikin-bikin yang begituan. Maklum hasilnya gak ada yang bagus, namanya juga nubitol! (search aja nubitol itu apa). Nah terus ane ikut kan kelas yang bisa menunjang untuk bisa bikin yang begituan, terus dikasi peer deh untuk buat tulisan selama sebulan penuh. Nah, kalau ada bolong sehari gitu, bayarnya 20 ribu, kebayangkan kenapa aku bisa semangat nulis selama sebulan? HAHAHAHA.

Tapi, semoga dengan mengikuti hal-hal yang begituan *apa sih yang begituan mulu* ane jadi bisa naik level dari nubitol jadi nubi aja. Yah, doakan saja.

Mungkin sih postingan ini buat ngisi kekosongan di blog ini selama kurang lebih hampir dua bulan. Selamat membaca untuk yang mau membaca. 

Iya, ane tau gak banyak yang baca juga :\


Salam damai!

Monday, June 10, 2013

Pukulan Itu

Bruk!

Janu tersungkur. Bagaimana bisa? Iya, dia dipukul keras oleh Bagas, tepat di pipi. Darah segar, tapi sedikit, turun dengan pelan melalui sela-sela ujung bibirnya. "Masih berani kamu?" Teriak Bagas, masih mengepalkan  tinjunya dengan napas yang tersengal-sengal.

"Segitu aja Gas? Masih belum apa-apa." Janu mengintimidasi Bagas, dengan sedikit senyuman dari bibirnya, menyeka darah dengan punggung tangannya. Janu berdiri perlahan, "Sudah?"

"Bajingan!"

Sekali lagi pukulan Bagas masuk, tepat di ulu hati Janu. Dengan pukulan yang dikeluarkan dengan sepenuh tenaga oleh Bagas. Terpental badan Janu ke belakang beberapa meter. Saking kuatnya pukulan Bagas. Ah, maklum cemburu terkadang bisa menjadi kekuatan yang mencengangkan. Janu tergeletak, dan agak terdiam untuk beberapa saat. Sepertinya Janu menikmati setiap pukulan Bagas. 

Bagas mendekati Janu perlahan, sepertinya dia agak mengalami kesakitan di kepalan tangannya. Mungkin karena dia memukul dengan sepenuh hati, jadi awal kontak dengan badan tidak terasa. Janu yang masih tertidur itu melihat Bagas mendekatinya. "Bisa ya. Kita yang dulunya berteman ini, berakhir seperti ini." Janu memulai pembicaraan dari posisinya yang sama. Tidur.

"Kalau saja kamu memberitahuku langsung, bukan dari orang lain seperti Hari. Tidak mungkin aku berani memukulmu. Mungkin hanya menendang bokongmu."

"Ah, kamu masih saja bisa bercanda di saat seperti ini." Janu tertawa kecil.

"Aku serius Jan, bagaimana bisa aku memukul sahabatku dari SMP hanya gara-gara masalah murahan seperti ini." Bagas mengulurkan tangannya, bermaksud membantu Janu berdiri. Tapi Janu menolak, dia berdiri sendiri.

"It's okay Gas. Tapi puas kan? Kalau masih kurang, silahkan lanjutkan."

"Cukup." Jawab Bagas singkat.

"Okay." Janu menyodorkan tinjunya. Memberi tanda kalau Janu mau melakukan bro fist. Bagas menanggapi  tinju itu, Walaupun tidak dengan semangat. Lemas.

***

Citra. Satu wanita itu yang membuat kedua lelaki ini bersitegang. Simpel permasalahannya. Gagal move on. Bagas terjebak masa lalu, Citra adalah mantan pacarnya. Sedangkan Bagas secara tidak sengaja dekat dengan Citra. Right?

"Jadi maafnya diterimakah?" Janu mengajak bicara Bagas, setelah beberapa saat terdiam. Mereka berdua berjalan dari taman belakang ke arah parkiran motor.

"Iya."

"Bagaimana bisa 'iya' dibarengi dengan muka datar seperti itu. Ayolah Gas. Kamu bukan orang yang seperti ini." Kata Janu tertawa kecil.

"Iya mungkin kamu benar, aku sudah berubah sekarang."

"Astaga." Janu berhenti berjalan, membiarkan Bagas berjalan sendirian di depannya. "Baiklah Gas."

Tiba-tiba Bagas juga berhenti. Masih membelakangi Janu, "Kamu orang yang paling tahu bagaimana aku, isi hatiku, dan Citra."

"Tapi Gas, kamu dan dia adalah cerita yang lama. Toh, Citra yang bilang kalau kamu dan dia sudah lama tak saling kontak." Janu mendekati perlahan Bagas. Meraih pundak dari Bagas. Tapi sayang kekuatan Bagas sedang naik-naiknya, pundak itu tidak bergerak.

Bagas menyingkirkan tangan Janu dari pundaknya, "Iya. Kamu memang benar. Sayangnya.."

"Sayang kenapa Gas?"

"Kamu adalah temanku. Sahabatku. Kalau kamu orang lain, itu tidak jadi masalah. Sayangnya itu kamu." Kali ini Bagas sedikit menoleh ke arah Janu dengan tatapan menyedihkan.

"Bagas.." Janu merasa sangat bersalah.

"Kamu tidak salah sepenuhnya. Yang salah adalah aku. Aku yang selama ini tidak berubah. Karena tidak berubah, membuat aku berubah secara tidak sadar." Akhirnya Bagas berbalik sepenuhnya, melihat dalam ke arah Janu. Dan mengakhirinya dengan senyuman, "Tapi, ini hanyalah masalahku. Sahabat tetap sahabat. Ini cuma masalah waktu."

Bagas meninggalkan Janu yang masih terdiam. Bagas menaiki motornya, kemudian dalam sekejap dia pergi meninggalkan parkiran itu. Janu kembali memegang pipinya yang masih terasa sangat sakit sehabis dipukul oleh Bagas. Tapi anehnya rasa sakit itu memiliki sensasinya berbeda.

"Maaf." Janu juga meninggalkan parkiran itu dengan perlahan.

Sunday, June 9, 2013

Perang Malam Minggu (Part 4)

Kedua kakak-beradik itu dalam keadaan yang lemas. Boni yang lemas gara-gara bau kecoak yang luar biasa pasca dibunuh. Dan Jaka yang lemas gara-gara ketika kecoak disemprot obat nyamuk, kecoak malah makin liar, yah walaupun kecoaknya juga mati juga gara-gara disemprot.

Tapi, Jaka berusaha berpikir untuk bisa menyelesaikan masalah ini. Bagaimana bisa untuk melenyapkan bangkai-bangkai kecoak ini agar hilang sekejap, dan juga baunya gak sampe mengganggu proses perang kali ini. Jaka berusaha berdiri sambil berpegangan dengan tembok. Uh, Jaka berusaha untuk bisa melihat keadaan ruang tengah. Sepanjang mata memandang hanya ada hamparan mayat kecoak yang bau luar biasa. Dan Jaka akhirnya melihat sesuatu yang menarik matanya. "Aha! Itu dia! Penyedot debu!"

Jaka yang sempoyongan, sambil mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir kecoak yang terbang kesana-kemari, napok sana-sini. Jaka melihat ke belakang, ada kakaknya, Boni mulai bangkit dari keterpurukannya. Yah, ibarat bangun dari galau gitu. Boni mulai menggenggam pedang korannya. Satu, dua, tiga kecoak sudah dia bantai dari dekat. Boni memberi kode oke ke Jaka. Akhirnya Jaka berhasil mengambil penyedot debu yang ada di ujung ruang tengah. "Gue siap!" Kata Jaka dengan raut muka tomb rider.

Ditariknya kabel dari penyedot debu, dicolokan ke stop kontak. Power dinyalakan.

Wuuuuung...

"I'm ready brother!" Teriak Jaka, sambil berlari menyedot para kecoak. Baik yang sudah mati, maupun yang masih terbang-terbang.

"Yeah, Jaka! You rock!" Boni bangun dengan sigap, dan mulai memukul kembali para kecoak itu. Plak! Dengan penuh semangat dia memukul kecoak yang ada di belakangnya, "Aku juga siap! Seraaang!!!"

Mereka memulai pertarungan kembali dengan para kecoak yang jumlahnya ratusan itu. Dan kini sepertinya semangat mereka membara! Yeah! Mungkin bisa disamakan ketika mereka pertama kali mendengar kalau misalnya mereka akan dibelikan Playstation 3. Wow, kira-kira seperti itulah kesenangan mereka. Kecoak mulai semakin sedikit dengan adanya genosida kecoak ini. Yang banyak membunuh sebenarnya Boni, tapi yang berjuang untuk menyingkirkan para bangkai adalah Jaka. Sungguh kombinasi yang bagus. Dan sebenernya kasihan sama semprotan nyamuk. Mau bagaimana, disemprot pakai itu malah makin ganas.

Akhirnya sekarang kecoak sudah berkurang separuhnya, masih ada sekitar puluhan kecoak lagi yang masih ada. Sedangkan, stamina Boni dan Jaka sangat jauh berkurang. Maklum anak baru gede, baru mimpi basah, jadi stamina masih stamina kerupuk kena air. Tapi melihat Pipo yang masih sibuk ngurusin kecoaknya, membuat Boni dan Jaka tetap menjaga semangat. "Kita pasti bisa menyelematkan Pipo!" Begitu pikir Boni dan Jaka. Sungguh optimisme yang luar biasa. 

Di saat seperti ini, biasanya ada bos besar. Kayak ada di game-game.

Ular! Iya ular itu kembali muncul dari balik sofa. Karena dia merasa kecoak anak buahnya sepertinya akan gagal memenangkan perang dengan dua anak kecil itu, akhirnya dia sendiri yang muncul ke permukaan. Dengan gagah berani. Boni dan Jaka yang melihat ular itu mulai muncul dari bawah sofa itu, kemudian bersiap. Menyiapkan armor dan persenjataan yang akan digunakan. Yah padahal sih, cuma pedang koran sama penyedot debu. Tapi lumayan buat getok kepala tuh ular.

Dengan cekatan, ular sudah meraih sedikit kaki Boni. Untung aja Jaka yang sadar duluan ketika ular itu mulai menyerang Boni langsung refleks untuk mendorong bahu Boni sehingga terhindar dari serangan ular itu. Oke, kondisi sekarang 1-0 untuk Boni dan Jaka. Serang ular gak berhasil. Boni yang terjatuh, langsung memukul kepala si ular dengan pedang korannya. Oke, kondisi sekarang 2-0. Ular itu mundur beberapa langkah. Kemudian mencoba menyerang Jaka, dalam hitungan detik sudah berada di dekat kaki Jaka. Boni yang merasa hutang budi sama Jaka, melompat harimau ke arah ular itu. Dan akhirnya memukul ular seperti memukul bola baseball! Ular terlempar ke tembok rumah! Oke, sekarang menjadi 3-0!

Ular yang masih bisa bergerak padahal sudah terkena tiga serangan berutut-turut. Sekarang ular mulai bersiap menyerang.

Hap!

Pipo menggigit kepala ular itu!

***

Boni bangkit dari sofanya. Dan sudah mengingat apakah yang telah terjadi semalam suntuk itu. Tapi apa yang terlihat? Di ruang tengah malah super rapi dan harum. Sepertinya gak ada bekas ada peperangan malam tadi.  Apa yang sebenarnya terjadi.

Boni melihat lemari di ruang tengah terbuka sedikit. Boni mendekati lemari itu. Dan dari dalam lemari itu, terlihat sesuatu.

"Jaka!"

Astaga, ternyata ada Jaka dan Pipo yang sedang tidur berpelukan di dalam lemari itu. Entah apa yang terjadi dari mereka setelah Boni pingsan di kamar. Memang keterlaluan, begitu perang selesai, padahal masih banyak kecoak mati di ruang tengah. Boni langsung menuju kamar, namun karena gak kuat, stamina habis akhirnya dia jatuh di kasur di kamar. Langsung tertidur.

"Sepertinya Jaka membersihkan semua mayat itu dan mengepel rumah ketika gue sudah tidur. Kamulah pemenang yang sejati Jaka." Boni mengangkat adiknya, dan membawanya ke kamar. Membiarkan Jaka tidur lebih nyaman di kasurnya. Sedangkan Pipo? Jangan ditanya Pipo terbangun ketika Boni membuka lemari. Dia sedang bermain dengan kambing di belakang. Sudahlah. Yang jelas rumah ini kembali seperti semula.


Saturday, June 8, 2013

Perang Malam Minggu (Part 3)

Kalian bisa bayangkan? Kalau ada satu kampung kecoak beterbangan di ruang tengah kalian? Uh. Sungguh baunya sangat laknat. Satu kecoak aja udah cukup buat dijadikan racun tikus kalau udah diambil sarinya, asli langsung dari kecoak, diperes. Huek. Lah mending kalau cuma jalan-jalan di lantai, lah ini terbang-terbang. Ah, kecoak kamu seperti pengharum ruangan otomatis. Harum yang make tanda petik.

Boni dan Jaka udah mulai mabok, mabok bau kecoak. Padahal yah mereka lagi ada di kamar, pintunya di tutup. Karena baunya yang laknat, jadi ya baunya masuk lewat sela bawah pintu, “Kak, gue pusing nih. Lemes.” Jaka yang daritadi padahal cuma selimutan di kasur, akhirnya menggeletak. Lemas gara-gara bau kecoak.

“Sabar Jak, elo harus kuat men. Elo haruuus kuuuaaaatt” Teriak Boni nggoyang-nggoyangin badan Jaka.

“Iye, tapi gak pake muncrat.” Jaka merem-melek kena muncratan Boni, "Kak, kita harus nolong Pipo cepat kak! Elo mau Pipo yang lucu itu jadi bau kecoak?"

"Ah! Pipo! Gak akan gue biarakan dia menyentuh bantal kesayanganku! Ayo Jak! Kita serbu!!"

"YEAH!" Jaka loncat dari kasur, terus kejeduk plapon. Maklum kasur springbed, jadi mentulnya tinggi.

Boni mulai mencari-cari barang yang bisa dijadikan alat peperangan nanti, Jaka sibuk sendiri nyari sempak mana yang bagus buat dipake di luar. Biar kayak supermen dong! Gaul! Ah tapi sayangnya kebanyakan sempaknya Jaka tuh yang gambarnya power ranger. Gak papa deh, beda tipis, "Kak mau pake sempak gambar apa? Sailormoon? Batman? Apa Naruto?" Tanya Jaka dengan raut muka super serius.

"Jak, gue serius ini. Elo masih aja ngurusin tuh sempak. Astaga." Jawab Boni kentut, eh ketus.

Jaka ngebales jawaban Boni dengan melotot. Makin lama makin melotot. Nunjukin kalau dia tuh juga lagi serius. Boni yang memang sebenernya dari lubuk hati terdalam pengen banget juga ngikutin Jaka make sempak di luar biar keren. Tapi.. Yasudahlah, "Teletubbies aja, jangan yang Po ya, yang Lala aja biar garang."

Sembari Jaka yang nyari sempak bergambar Lala di lemari, yah sebenernya itu akal-akalan Boni aja, mana pernah dia punya sempak Teletubbies. Sempaknya Boni mah yang garang-garang, kan udah SMP, jadi macam geng motor gitu. Gambar tengkorak naik motor. Garang kan?

Setelah membongkar isi kamar, akhirnya Boni menemukan beberapa slayer untuk muka, kemudian jaket tukang ojek bekas punya Bapaknya, kaos kaki warna kuning dan hijau, semprotan nyamuk, beberapa koran, dan juga handuk, "Hmmm, perfect! Kita bisa menang ngelawan kecoak-kecoak itu Jak! Kita bisa nyelamatin Pipo!" Kata Boni dengan semangat.

Jaka gak jawab, iya dia masih sibuk dan penasaran banget dimanakah sempak Lala ini. Boni cuma ngikik, ya mau gimana, kan emang gak punya. Boni mengajak Jaka untuk lebih serius, "Jak ini kita kudu siap-siap. Udah sempak gue nanti aja dah. Nanti kita beli sempak Lala abis kita ngalahin pasukan kecoak itu!"

Akhirnya Boni dan Jaka bersiap-siap untuk perang. Mereka memakai baju berlapis-lapis, kayak lapis legit! Ada 4 lapis, kenapa? Soalnya biar kalau ketabrak kecoak terbang gak sakit dan gak geli. Yah bisa dibayangkan dong kalau ditabrak kecoak gimana gelinya. Mending cuma ketabrak, lah kalo nempel di badan, terus badan kita digrepe? Brrr. Slayer dipakai untuk menutupi mulutnya. Jaka setelah makai slayer di mukanya langsung pose gitu di depan kaca. Mungkin dia pikir, dia ganteng kali ya kalau pake slayer gitu. Iyalah ganteng, muka pada ketutup gitu. Kemudian kaos kaki dan handuk buat ngelap keringat. Siapa tahu nanti kecapean, kan ada handuk ngelap keringet.


Senjata dibagi menjadi dua. Boni menggunakan koran bekas kemudian digulung-gulung jadi pedang koran. Dan Jaka menggunakan semprotan nyamuk buat ngebasmi para kecoak. Iya, mereka siap buat menghadapi perang selanjutnya.

Akhirnya, merekapun mencoba untuk keluar kamar. Oh tidak, kecoak itu masih berterbangan. Ularnya kemana? Sudahlah sekarang kita fokusnya ke kecoak aja. Lebih serem kecoak yang rame dibanding ular yang cuma satu.

"Serang!" Boni berteriak, memberikan kode ke Jaka untuk memulai perang.

Boni dengan brutal menggunakan pedang korannya kesana-kemari. Sudahlah, banyak juga kecoak yang mati terkena jurus brutal dari Boni. Boni memang seorang player sejati. Memang jagonya kalau beginian. Pokoknya asal bunyi pukulannya nyaring, itu udah cukup buat semangat nambah! Biarpun yah gak kena juga. Bagaimana dengan Jaka?

Jaka dengan semprotan ampuhnya.. Gagal. Iya, kalau kalian tahu, kecoak kalau memang disemprot pake semprotan nyamuk sih emang bakal mati. Toh itu juga buat semprotan kecoak, tapi ya gitu sebelum dia mati dia bakal makin menggila. Jadi kecoak itu abis kena semprotan malah makin liar, terbang-terbangnya makin mengerikan. Bukannya kecoak kelar pada mati, yang ada Jaka malah yang diserang balik sama tuh kecoak, "Kak tolong kak. Tolong."

Tapi.. Ternyata Boni juga lebih parah. Boni yang daritadi berhasilin bunuh banyak kecoak, terkena efek dari matinya kecoak. Tahu apa? Lendirnya yang lengket, dan bau yang luar biasa itu bikin Boni terduduk lemas. Iya, dia gak kuat buat ngelanjutin proses pemukulan.

Jadi, selanjutnya? Kalau Pipo sih masih asik main kejar-kejaran sama para kecoak. Sepertinya perang ini gak berjalan dengan mulus.

Bersambung..

Friday, June 7, 2013

Lupaman

Manusia memang tempatnya lupa. Segala jenis lupa ada di dalam yang namanya manusia, mulai dari lupa diri, lupa sengaja, lupa gak sengaja, bahkan menolak lupa. Sudahlah terlalu banyak lupa di dunia ini, dan itu karena terlalu banyak manusia. Tapi bagaimana dengan orang yang hobinya lupa? Ah, kita lihat saja Anggito ini, biasa dipanggil Lupaman. Manusia lupa. Atau mungkin supaya terlihat unyu bisa dipanggil Upa. Keseleo sedikit jadinya upil. Oke lupakan.

Upa ini memang keterlaluan lupanya. Entah ini udah termasuk hobi atau penyakit. Yang jelas predikat Lupaman emang diambil dari kehidupan sehari-hari aja. Seperti ini, mau pergi ke kampus, mau kuliah ceritanya. Udah siap, udah ngganteng, siap berangkat. Kamar kos dikunci, terus pake sepatu di depan rumah. Eh, di sepatunya gak ada kaos kaki. Balik lagi ke kamar, buka kunci, ambil kaos kaki, kunci kamar lagi. Okeh sekarang sudah pake sepatu. Sampe motor, eh kunci ketinggalan. Balik lagi ke kamar, buka kunci, ambil kunci motor, kunci kamar lagi. Siap naik motor, eh helmnya lupa ketinggalan. Dan seterusnya. Pokoknya ini rutinitas pagi. Terlalu banyak "eh".

"Bro, kemaren kamu kemana? Sakit? Kok gak ujian kalkulus?" Somad bertanya pada Upa yang lagi makan tempe penyet di kantin.

"Hmm... .... UJIAN APAA???? ASTAGA UDAH MINGGU UJIAN KAH INI?? KUPIKIR MASIH MINGGU TENANG!!!!" Upa teriak-teriak padahal mulutnya penuh tempe. Tahu apa akibatnya? Tumpeh-tumpeh dong. Sama muncrat juga ding.

Teman-temannya sudah tahu gimana si Upa ini. Toh mereka yang ngasi nama Upa. Eh? Siapa ya? Apa si Upa sendiri yang kegeeran jadi ngasi nama julukan sendiri. Ah, gak penting juga. Nah! Ngeri kan penyakit lupanya Upa? Bisa nular ke banyak orang. Hiii mengerikan. Jadi jangan deket-deket dia ya. Tapi gak semua teman-temannya maklum dan ngebiarin tuh Upa jadi pelupa terus. Masih ada yang peduli kok, apalagi Andini. Entah ada angin apa sih Andini ini bisa perhatian banget sama Upa. Padahal yaa sering lupa kalo minjem duit, sering lupa kalo abis minjem pulpen, bahkan lupa kalo motor yang dipake Upa adalah motornya Andini. Duh, dasar Andini. Tapi dia fine-fine aja tuh, padahal ya Andini sama Upa kenal juga baru semester 3 kemaren, itupun gara-gara Upa lupa kalau Andini itu teman sejurusannya. Baru kenalnya dari semester 3 padahal Andini ngerasa kenal sama Upa udah dari ospek. Huh dasar Upa!

Andini juga sering dikasitau sama temen-temennya, buat jauh-jauh sama Upa, biar gak ketuluran lupanya si kampret itu. Tapi mau diapain, Andini terlalu kasihan sama Upa yang sudah gak ada temennya, makin gak ada temennya. Karin, juga merupakan temen dari Andini tapi beda jurusan akhirnya berkecimpung juga buat ngurusin Upa. Soalnya Karin ngerasa kasihan Andini sendirian ngurus bocah itu, padahal ya bukan siapa-siapanya Upa. Eh, pas ngeliat si Upa. Karinnya malah doyan sama Upa, "Ganteng juga ya si Upa, sayang pelupa akut gini. Rambut poni lempar, badan tinggi kurus, putih, suka pakai jeans kemana-mana. Tapi yang bikin gak oke, doyan banget sih doi pake sendal sewalow."

Andini hanya tersenyum ngeliat ada Karin sahabatnya dari SMA ikut bantuin ngurus Upa. 

***

Karena Andini, orang tua Upa juga akhirnya sering minta tolong Andini dan Karin untuk ngingetin Upa dalam kesehariannya. Soalnya parah banget, masa, Upa itu sering dipinjemin duit sama temen-temennya, karena emang dasar Upa tuh baik. Tapi karena dia pelupa, yasudah hutangnya pun seperti butiran debu. Itulah kenapa sering banget Upa kelaparan parah di kamar kosnya. Lagi-lagi untung aja ada Andini. Duh, terima kasih ya Andini.

"Kok bisa ya Ndin, ada orang kayak Upa gitu?" Karin memulai pembicaraan di kafe, Andini dan Karin sedang di kafe, ceritanya sih nyari tempat sunyi gitu nyari inspirasi tugas masing-masing.




"Haha, jangankan kamu. Aku juga baru kali ini ketemu orang kayak Upa. Tapi tahu gak sih, setidaknya sekarang Upa ada usaha buat ngurangin penyakit lupanya. Walaupun yah gitu, dikit aja, tapi lumayan lah." Andin menjawab dengan senyum merekah, seakan gak ada beban.

"Emang apaan usahanya?"

"Dia kemaren nanya aku, dimana beli sticky notes itu yang buat nempel-nempel. Kemajuan kan?" Andini tertawa.

Tapi ya Andini cuma gak tahu, kalau sebenernya sticky notes itu gak pernah dibeli sama Upa, soalnya Upa lupa terus mau beli. Duh, semacam lupaception. Maunya ngilangin lupa, eh malah lupa terus.

***

"Yuk, makan bareng yuk Upa. Bareng aku." Karin menarik tangan Upa di lobi jurusan teknik kimia. Karin sengaja datang ke jurusannya Upa buat ngajak makan Upa. Kan udah dibilang, Karin itu doyan sama Upa, makanya jangan pelupa! Dan semua teman-teman Upa gak percaya kalau ternyata gak cuma Andini, primadona jurusan, yang menjadi pengurus setia Upa. Bahkan sampe ada yang suka!! Semuanya melihat Karin melongo, yah mau gimana, namanya juga mahasiswi manajemen yang masuk ke jurusan teknik kimia. Dandanannya jauh beda. Hobi pake tas ketek, sama widges gitu. Gaul gitu.

Andini yang ketika itu baru keluar kelas, kaget melihat Karin ada di jurusannya tiba-tiba, "Eh, ada Andini. Yuk Ndin, ikutan kita makan siang bareng." Karin teriak spontan melihat Andini turun dari tangga. 

"Emm.."

"Eits, aku boleh ikutan gak ini?" Koko tiba-tiba datang ngerangkul pundak dari Andini. Iya. Si playboy cap tokek ini emang doyan godain Andini. Apalagi sekarang Koko abis putus dari pacarnya, anak jurusan manajemen temen dari Karin. Jadi Koko emang kenal sama Karin. 

"Apaan sih!" Andini melepas rangkulan Koko.

"Eits, eits, eits. Jangan galak-galak dong sayang." Koko mencolek idung Andini yang gak mancung. Pesek? Gak juga sih. Semuanya pas mah kalo Andini. Semampai, semeter tak sampai. Gak ding, tingginya sekitaran 160 cm, rambut gelombang. Dan manis sekali dengan lesung pipit. Pas banget mah jadi ratu di jurusan teknik kimia.

Upa hanya terdiam. Soalnya dia lupa kalau Koko ini anak jurusan teknik kimia juga. Makanya dia diam. Mikir, kok bisa sih ada anak sok gaul gitu di jurusan. Masa di jurusan rambutnya di parit gitu, pake anting lagi, celana skinny jeans, "Ayuuuk, laper nih." Karin menarik tangan Upa.

***

"Ada apa Rin?" Tanya Andini kepada Karin yang tersedu-sedu di kafe yang sama mereka tongkrongi.

"Hiks, semalam aku kan bilang kalau aku tuh sayang sama Upa." Karin memulai cerita dengan isapan ingus yang gak kalah kenceng. Andini kaget. Dia gak menyangka kalau Karin berani untuk nembak duluan. Andini tahu banget kalau Karin itu suka sama Upa, tapi gak nyangka aja sampe kayak gini. Ada perasaan nyesek yang tiba-tiba dirasakan Andini.

"Terus.." Andini berusaha menyeka air mata Karin dengan tisu yang dia ambil dari tasnya.

"Iya, terus. Upa lupa nyimpen nomerku. Jadi pas aku bilang aku sayang kamu gitu, Upa malah nanya balik. 'Ini siapa ya?'. Hiks, sedih banget gak sih?" Karin lebih nyaring sesunggukannya.

Andini yang sekejap merasakan lega di hatinya, akhirnya gak tahan buat tertawa. Tapi dia tahan, kasihan sama sahabatnya, "Yah, wajar toh. Suka sama Upa itu emang kesalahan terkutuk."

"Tapi kan, tapi.." Karin lebih banyak lagi curhatnya, jadi setelah dia ngasih tahu kalau yang nge-sms tuh Karin ke Upa. Upanya lupa balas, "Eh besok siangnya baru balas. Katanya baru beli pulsa. Terus nanya kemaren sms apaan. Padahal kan dia bisa ngeliat sms di hapenya. Kan masuk ke inbox. Masa iya saking lupanya, dia hapus smsku. Padahal kan sms itu dari hati." 

Andini mengelus-elus kepala Karin. Yah, begitulah. Agak lebay sih. Tapi Karin langsung memeluk Andini kemudian ngelanjutin nangisnya. Sampe-sampe pundaknya Andini kebanjiran ingus. Hiiii

***

Andini mendapatkan berita istimewa. Andini diterima untuk sekolah master di Universitas Tokyo, Jepang. Dan dia harus berangkat seminggu dari sekarang. Semua teman-teman jurusannya menyelamati Andini. Pintar, cantik, ah siapa sih yang gak mau sama Andini? Untung aja Koko di tolak mentah-mentah sama Andini. Kalau gak, berkurang tuh kualitas Andini kalau nerima Koko sebagai pacarnya.

Bagaimana dengan Upa? Ah, Upa mah lagi asik mancing ikan di kolam ikan deket kosannya. Lupa. Lupa kalau Andini semalam sudah ngasih tahu kalau dia bakal ke Jepang minggu depan, "Ah! Sial! Kailnya lepas!" Teriak Upa histeris.

***

Sampai di bandara internasional, yang memang berbeda kota dengan universitas Andini. Hmm, memang keterlaluan Upa. Seperti kacang lupa pada kulitnya! Andini yang terlihat agak sedih dan kecewa, perlahan masuk ke dalam ruang tunggu. Salim bapak-mamak. Dadah-dadah sma temen SMAnya yang sengaja datang untuk sayonara. Hanya yang absen adalah Upa. Karin sepertinya gak ikut, dia gak ada kabar. Tapi setidaknya sama Karin, Andini sudah berpamitan.

Andini masuk ke ruang tunggu. Menunggu. Pesawat yang akan membawanya ke negeri sakura. Gak lama, panggilan masuk pesawat berbunyi. Berbondong-bondong orang mengantri. Tiba-tiba, "Andiniiiiiii!"

Andini kemudian melirik ke belakang, siapa gerangan yang manggil dia di saat-saat seperti ini. Upa kah? Hah? Bagaimana bisa? Ah. Ternyata itu adalah Karin yang manggil, "Andiniii, tunggu!"

"Kok kamu bisa masuk ruang tunggu gini?" Tanya Andini heran.

"Kamu lupa ya, Bapakku kan kepala bandara ini." Kedip Karin, tapi sih ngos-ngosan ngejar ketertinggalan Andini.

Jadi, emang Karin sengaja bela-belain ke bandara buat ngasi sesuatu buat Andini. Surat dari Upa, "Ini buat kamu. Tapi gak usah dibaca sekarang ya. Dibaca di pesawat aja. Tuh antrianmu sebentar lagi."

"Ah, oke. Makasih ya Karin. Sampai jumpa lagi." Andini menerima surat titipan Upa dari Karin.

"Tenang aja, kalo aku ada waktu. Aku bakal ke Jepang juga. Nanti kita shopping di sana hihi." Canda Karin.

"Bener ya? Ditunggu." Senyum Andini.

Andini yang sudah menerima surat dari Karin, akhirnya move-on juga. Menaiki tangga pesawat dengan perasaan yang ringan. Seakan-akan dia sudah merasa terbang semenjak dari ruang tunggu itu. Dia duduk di kursi 12A dekat dengan jendela. Ah, cocok buat galau-galau nih, begitu pikir Andini. Akhirnya setelah dia duduk, dia gak tahan buat gak baca tuh surat. Akhirnya di bukalah surat yang emang super sederhana. Cuma  kertas binder yang dilipet-lipet, "Kamu memang gak ada romantisnya Pa."


Siapa nama kamu, ah  iya, Andini

Aku  tahu kalau kamu bakal pergi ke Jepang, aku tahu dari Karin. Dia cerita ke aku ketika kamu pertama kali mendengar beritamu yang pergi ke  Jepang itu.

Kamu tahulah. Aku pelupa. Jadi, setelah aku  mendengar berita kamu yang akan pergi itu. Aku langsung nulis surat ini. Yah, aku memang pelupa. Aku gak yakin aku bakal ingat hari apa kamu akan berangkat. Mumpung ingat.

Terima kasih.

Tidak ada kata yang ada selain yang di atas.

Aku gak pinter nulis surat, jadi seadanya aja ya.

Yang jelas, aku udah sengaja langsung men-setting skype ku agar selalu nyala setiap aku online atau menyalakan laptop. Jadi kalau kamu ingat. Aku siap kamu hubungi. Jangan berharap padaku yang pelupa ini.

Btw, aku sekarang punya cita-cita. Tapi aku butuh bantuanmu untuk mengejar itu. Aku butuh bantuan kamu untuk mengingatkan cita-citaku itu. Sayonara.

Temanmu yang pelupa,

Anggito


Gak ada yang membuat perjalanan Andini ini semakin berat, selain dikarenakan surat ini, "Anggito, aku pikir kamu sudah lupa nama kamu sebenarnya." Andini tertawa kecil. Banyak sebenarnya yang membuat Andini tertawa ketika membaca surat ini. Kalian tahu apa?

Iya. Upa, lupa kalau Andini gak punya skype. 

Tapi ya sudahlah, toh Andini bakal buat setelah diingatkan oleh Upa.


Thursday, June 6, 2013

Kejutan dari Panti Asuhan

Kamu ceritanya sedang makan martabak dengan santai di salah satu sudut parkiran kampus. Nongkrong layaknya tukang ojek yang lagi nyari mangsa buat disiulin. Ditambah rokok yang dijepit di antara jari telunjuk dan jari tengahmu, kamu semakin mirip ketua geng motor. Hari libur tidak sama sekali membuatmu malas untuk menjalani rutinitas seperti ini. Makan martabak di siang hari sampai ada orang lewat buat dilemparin puntung rokok yang abis kamu hisap. Dan.. Jangan tanya dapat darimanakah martabak yang kamu makan itu! Mana ada tukang martabak yang jualan di siang hari? Jadi sudah jelas darimanakah martabak itu datang. Sisa begadang semalam.

Kurang kerjaan. Itulah yang kamu kerjakan ketika memang sedang bosan. Bosan dengan kisah asmara yang sekarang lagi musimnya. Macam musim kawin. Entah ada angin apa, yang jelas banyak pasangan baru yang muncul di kampusmu. Bahkan Bandot yang giginya hilang satu di depan itu baru jadian. Huh! Kapan dong giliran kamu? Ah, kamu tidak bisa membohongi diri kalau kamu juga menginginkan itu. Belahan jiwa. Tapi sayang kamu orangnya susah untuk jujur terhadap dirimu.

"Hoy! Ngelamun aje!" Ana menjambak rambutmu yang gimbal dari belakang.

"Anjrit!" Awalnya tidak ada kata-kata selain ini yang muncul dari mulutmu. Kamu terlalu sayang dengan rambut gimbalmu, "Apakah kamu tahu Ana Rizky Fathimah? Kamu telah mencelakakan rambutku yang seperti cahaya dalam hidupku."

"Apakah begitu paduka? Oh, maafkan hambamu ini." Ana membalas perkataanmu dengan logat yang sama dengan kamu biasa kamu gunakan. Entah. Tapi ini terdengar seperti mengejekmu.

"Jangan ganggu aku lagi. Aku sedang mencari inspirasi di balik peliknya kehidupan ini." Kamu membalikkan badanmu kembali seperti semula.

"Mau ketemu banyak cewe gak kamu? Yuk ikutan." Lagi-lagi Ana menjambak rambutmu, tapi kali ini dengan tarikan. Jadi kamu seperti kambing salah gaul yang ditarik-tarik oleh penggembalanya.




"Aargh. Ana hentikan.."

Percuma Ana sama sekali tidak mendengar perkataanmu sama sekali, dia tetap menarikmu. Tapi entah kenapa kamu tidak bisa marah kepada Ana, seharusnya kamu yang lebih bisa menjawab. Kamu ditarik terus, padahal kamu sudah bilang berjanji menurut, tapi tetap saja Ana menarikmu seperti itu. Sampai di ujung parkiran lainnya, yang ada mobil Xenia di depanmu. "Nah, sekarang kamu masuk sanah! Tenang aja kita bakal ngeliat banyak cewe kok. Kamu pasti senang" Ana mendorongmu untuk masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil sudah ada 2 orang, Zaky dan Nissa. Zaky yang berada di bangku supir, sedangkan Nissa berada di tengah bersama kamu sekarang, "Ana kejam juga ya sama kamu." Nissa tertawa melihatmu yang disiksa seperti kambing yang durhaka. Kamu cuma tersenyum kecul menanggapi perkataan dari Nissa, yang ada kamu sok cool mengikat rambut gimbalmu dengan karet yang selalu kamu bawa setiap hari di kantong celana jeansmu yang robek di lutut dan pantat. Kenapa di pantat? Sepertinya kamu senang memamerkan kolormu yang berwarna norak itu. 

"Sudah kamu diam aja duduk di belakang Bar." Kata Zaky sambil membenarkan posisi kacamata hitamnya yang sepertinya emang bukan miliknya. Longgar gitu.

"Oke! Yuk Zak, Cus!" Ana masuk ke dalam mobil duduk disamping Zaky. Kamu yang bingung dan memang sedang tidak ada kerjaan yaa ngikut aja diculik. Apalagi diculik Ana dan Nissa, duo primadona kampus yang memang sangat sial bisa berteman baik denganmu dari jaman SMA.

***

"Tenang aja Barry, kita bakal ketempat yang banyak ceweknya. Siapa tahu ada yang nyantol sama kamu. Lagian daripada kamu gak jelas gitu mojok di parkiran. Masi mending mojok sama cewek, lah kamu mojok sama tokek." Ana mencoba menghiburmu dengan lawakan garingnya. Untung aja dia cantik, kalau gak mungkin sudah kamu balas dengan ketawa yang nyaring dan garing. Krenyes.

"Ah terserah pada kalian saja aku menurut. Yang terpenting aku bisa bertemu dengan banyak bidadari yang tak bersayap nanti." Kamu menjawab dengan lagi-lagi sok cool. 

"Haha. Kamu masih aja make logat itu Bar? Sumpah ngakak aku." Zaky tertawa mengejekmu, sampai ilernya tanpa sadar keluar dengan bebas dari ujung bibirnya.

Memang banyak yang tidak betah berada di dekatmu selama ini dikarenakan logatmu yang sangat aneh. Sok puitis? Tidak juga. Sok baku? Banyak yang salah juga. Kamu hanya kebanyakan nonton opera sabun yang banyak menggunakan logat seperti itu. Tapi kamu tidak perduli. Selama kamu nyaman, that's okay. Untung saja ada Nissa, Zaky, dan Ana yang betah akan logatmu. Kalau tidak, kehidupan kampusmu tidak akan senyaman ini. 

***

Akhirnya mobil berhenti di suatu dusun yang kamu tidak tahu dimana. Yang jelas banyak kicau burung, suara jangkrik, dan banyak suara ribut dari suatu rumah. Ana yang memakai kaos berwarna abu-abu, dengan rambut tergerai, dan sepatu sneakers turun dari mobil dan menuju rumah yang ribut itu. Biasa saja sih, tapi mau diapain dialah primadona kampus, mau pakai karung goni aja pasti bakal tetap cantik. Sungguh beruntung kamu bisa berteman baik dengan Ana. Sesaat Ana berbicara dengan bapak-bapak dari dalam rumah, Ana memberikan kode untuk kalian segera menuju rumah tersebut.

"Yuk Bar." Nissa menarik rambutmu, sama seperti Ana menarik rambutmu menggiring keluar mobil. 

"Nissa, jangan kamu ikuti perbuatan yang tercela ini." Kamu pasrah ditarik-tarik kayak kambing.

"Haha. Bar, bar. Gimana mau dapet cewek. Tampang preman gitu, tapi logat kayak gitu." Zaky juga turun dari mobil. Dengan kacamata hitamnya yang longgar itu. Yah sepertinya dia salah gaul gitu, dandanan gitu kok ke desa.

Kalian dipersilahkan masuk oleh yang empunya rumah. Ternyata cewek-cewek yang banyak itu adalah anak-anak kecil! Jahat sekali Ana membohongimu. Dan kamu tahu akhirnya ternyata kamu sedang berada di  salah satu panti asuhan di pinggiran kota tempat kamu belajar. Anak-anak yang emang didominasi oleh cewek ini, menyambut kalian dengan suka cita. Ada yang teriak-teriak, ada yang malu-malu sembunyi di balik tembok, bahkan ada yang langsung minta gendong ke Nissa dan Zaky. Mereka berdua terlihat seperti keluarga baru yang bahagia. Yah mudahan saja begitu, toh mereka sudah bersama dari jaman SMP. 

"Yuk adik-adik kita mulai ya acaranya." Ana menggiring anak-anak itu ke ruang tengah untuk memulai acara. 

"Mbak, itu om yang serem di belakang itu om Barry?" Tanya salah satu anak kecil ke Ana.

"Hihi iya Dintan. Dia yang namanya om Barry." Jawab Ana dengan penuh kasih sayang, "Yuk cepat, kan kita  mau nonton bareng."

Bagaimana mungkin anak kecil itu bisa tahu namamu? Ah. Ana sebenernya ini acara apaan sih? Kok semuanya serba tiba-tiba dan aneh ini. Ternyata setelah kamu mengikuti anak-anak menonton bareng film Kungfu Panda, kamu juga tahu ini adalah salah satu program yang biasa Ana lakukan sebulan sekali dari organisasinya. Nonbar bareng anak yatim, "Hey Ana ada apa gerangan kamu tiba-tiba mengajakku untuk ikut acara seperti ini?" 

"Udah deh, ikutin aja." Ana menjawab singkat sambil terkekeh

***

"Sudah puas adik-adik nontonnya?" Nissa segera maju ke depan anak-anak itu, "Bagus gak filmnya?"

"Baguuuuuuusss kaak!" 

"Nah, sekarang sebagai penutup. Ada pertunjukan sulap dari Kak Zaky! Kita kasih tepuk tangan!"

Tepuk tangan riuh. Kamu hanya diam. Makin tidak mengerti. Sebenernya kamu tidak menyukai untuk ikutan acara seperti ini. Tapi entah kenapa ada perasaan yang melegakan setelah melihat keceriaan anak-anak itu. Sesaat kemudian, Zaky muncul masi dengan kacamata hitamnya tapi kali ini dia memakai topi hitam panjang yang biasa dipakai para pesulap. Dengan tangan cekatan khas para pesulap, dia sekejap mengeluarkan kelinci dan muncul balon-balon dari balik topinya itu. Tepuk tangan kembali ramai.

Nah kali ini sepertinya Zaky akan mencoba sulap yang lebih ekstrim. Kain hitam besar dikeluarkan oleh Zaky dari kantong celananya. Kemudian dia sepertinya kesulitan menggunakan kain besar itu di depan, "Kita sepertinya butuh bantuan dari orang yang rambutnya gimbal. Ada yang tahu siapa yang punya rambut gimbal dan serem?" Lanjut Zaky.

"Ituuuuu Kakk. Kakk Barry!!!" Jawab mereka serentak.

What the? Kok mereka semua jadi tahu namamu. Ini semakin bau ikan. Something fishy. Kamu yang tidak pernah muncul di acara seperti ini kok mereka tahu namamu? Pasti gara-gara Ana. Dialah dalang semua ini, "Baiklah, tapi berapa rupiahkah yang mampu kamu gelontorkan untuk meminta bantuanku?" Tantang kamu ke Zaky.

"Lebih dari yang kamu tahu yang jelas Bar." Jawab Zaky singkat penuh misteri.

Akhirnya kamu berdiri di depan anak-anak tersebut, dan membantu membentangkan kain hitam besar yang diberikan oleh Zaky. Kamu menahan kain hitam itu di depan Zaky. Zaky mengisyaratkan bahwa kamu tidak boleh mengintip juga, dan juga apabila dalam hitungan ketiga baru kain itu boleh di buka. Ah sudahlah, toh kamu juga pengen acara ini cepat selesai, "Sudahlah, kamu jangan terlalu banyak basa-basi, selesaikan saja."

Anak-anak itu menghitung dengan nyaring. 1.. 2.. dan.. 3! Suara sudah tidak ada dari balik kain itu. Kamu penasaran dan akhirnya membuka kain yang sudah menutupi Zaky itu, setelah dipaksa juga oleh anak-anak itu. Dan.. Zaky menghilang!!! How come! Kamu yang juga terkaget sampai rambut gimbalmu tersingkap ke depan jidatmu, seakan tak percaya. Zaky? Sejak kapan dia jadi pesulap yang hebat seperti ini? Kamu buru-buru melihat ke belakang untuk menoleh ke Ana dan Nissa. Tapi. Hah? Mereka juga tidak ada. Kamu hanya sendiri di ruangan tengah itu, dan melihat anak-anak mulai menangis karena ketakutan Zaky sang pesulap hilang dari hadapan mereka. Maklum rata-rata mereka baru berumur 8-9 tahun. 

Kamu yang tidak pernah mengalami hal yang mengerikan ini, jadi kebingungan. Kemana mereka semua? Kok bisa menghilang semuanya. Luar biasa memang sulap yang dibawa Zaky. Selain dirinya, dia juga menghilangkan Ana dan Nissa! Kamu mulai sibuk menggendongi anak-anak itu satu-persatu, tapi ya mereka juga semakin takut karena digendong oleh om gimbal seram. Jadinya tidak berhenti mereka menangis.

Tapi.. Sepertinya keributan ini tidak terlalu lama. Gimbalmu yang lama-lama menjadi rontok gara-gara kelakuan Ana, Nissa, dan anak-anak itu yang sedang menangis itu. Kamu yang sedang sibuk memberhentikan tangis anak-anak, kaget ada suara petasan dari ruang tamu depan. Kamu akhirnya berjalan ke depan, ke ruang tamu.

"Selamat ulang tahun! Kami ucapkan! Selamat panjang umur!" Teriak anak-anak yang tadi menangis. Secepat kilat mereka langsung berubah drastis, dari yang menangis sekarang jadi senang tertawa. Wow mereka pintar akting ternyata!

Nissa, dan Zaky ada di ruang tamu depan, dan Ana membawakan kue itu.




"Selamat ulang tahun ya Barry." Senyum Ana selalu membuatku meleleh.

"Jadi, kalian membawaku untuk memberikan kejutan indah seperti ini? Ah kalian memang sahabat sejatiku." Kamu tidak kuat menahan air mata. Seumur-umur baru kali ini ulang tahunmu dirayakan. Siapa yang mau merayakan ulang tahun bersama orang aneh sepertimu?

"Sudah gak usah sok-sok pake acara nangis gitu." Nissa menambahkan, lalu dia mengambil satu potongan dan diberikan ke kamu.

"Kok kamu yang ngasi sih Nis? Seharusnya kamu ngasi ke aku" Omel Zaky sok cemburu.

Ana dan Nissa tertawa mendengar celotehan Zaky, tapi kamu hanya bisa garuk-garuk kepala gimbalmu. Kamu terlalu awkward untuk bisa menghadapi moment itu, "Seharusnya Ana yang memberikan potongan pertama, eh kebalik ya kamu yang ngasi ke Ana, Bar." Omongan Zaky menusukmu. Ya kan?

Ana cuma bisa tertawa lagi mendengar lawakan Zaky. Akhirnya kamu mulai mengambil potongan kue dari tangan Ana, dan berusaha memberikannya. Walopun kamu tahu kamu berat melakukannya, terlalu malu. 

Ceprot!

"Eits! Jangan senang dulu!" Potongan kue yang diberikan Nissa ke Zaky, mendarat di mukamu. 

"Jiguuuur!"

Ana dan Nissa beserta anak-anak kecil itu kembali tertawa melihat kamu mengejar-ngejar Zaky dengan rambut gimbal yang bertebangan itu. Ah sungguh sore yang berbeda.

Wednesday, June 5, 2013

Darmawisata Jembatan Gantung

“Kamu kenapa Ram?” Nesya memegang pundakku dari belakang. Aku kaget.

Sepertinya dia tahu daritadi aku berdiri, diam, dan keringat dingin membelakangi jembatan gantung itu. Tapi aku malu, aku malu banget kalau misalnya semua teman-teman tahu kalau aku tuh.. Uh, pokoknya gak mau! Aku gak mau naik jembatan itu.

“Ah. Gak. Gakpapa kok Nes. Aku baik-baik aja.” Aku gelagapan menjawab pertanyaan dari Nesya. Sambil menyeka keringat dari dahiku.

“Ayok anak-anak, satu-persatu ya lewat jembatannya. Pelan-pelan aja. Inget! Jangan liat ke bawah ya. Fokus aja jalan kedepan.” Pak Danu berkata pada kami yang sudah berkumpul di salah satu pos jembatan gantung yang tingginya kira-kira kayak tiang panjat pinang! Pokoknya aku melihat jembatan itu sangat kecil banget ketika aku berada di bawah. 

Kami satu rombongan yang berisi 20 anak SD berbaris menjadi satu. Kami bergantian menyebrangi jembatan. Kamu pasti tahu aku ada di urutan keberapa? Iya! Aku berada di tangga turun. Aku bermaksud kabur dari situasi mengerikan ini, “Hey, Rama! Kamu mau kemana? Kebelet ya?” Pak Danu menarik tas punggungku dari belakang.

“Eng, nganu Pak. Iya Pak. Eh, enggak kok Pak. Aku cuma main naik-turun tangga Pak.” Aku berkelit untuk kesekian kalinya.

“Hati-hati Rama, nanti kamu bisa jatuh kalau tidak hati-hati.”

“Iya, Pak.” Aku berbalik ke barisan, di urutan paling belakang. Aku menarik napas panjang. Lagi-lagi keringat banyak muncul dari dahiku. 

Di depanku ada Nesya yang entah kenapa hari ini cantik sekali. Tas pink, dengan rambut yang dikepang dua dan bandana pink. Entah kenapa anak cewek itu suka sekali dengan warna pink, tapi anehnya anak cowok sepertiku suka banget sama mereka yang berdandan pink. Eh bukan berati aku suka pake pakaian warna pink! Gak! Sama sekali enggak! Nesya sedang asik ngobrol dengan Anita yang berada di depannya. Mereka sepertinya menikmati sekali perjalanan kali ini.

Seandainya. Aku gak mendengarkan Doni cerita kemaren ketika istirahat, pasti aku akan lebih menikmati Darmawisata ini. Sebenernya buat apa sih anak kelas 6 SD ada darmawisata mengerikan ini? Seharusnya kita belajar buat ujian nasional. Sialan kamu Doni. Ah tapi memang menyeramkan sih. Argh! 


…


“Kalian tahu gak?” Doni memulai cerita dengan mulut yang penuh dengan kerupuk udang.

“Kenapa Don? Ada game baru lagi?” Satria mendengarkan dengan antusias. Bahkan terlalu antusias. Sampai bakso yang mau aku makan jatuh nggelundung terkena sikutnya ke parit dekat kami makan. Aku dongkol setengah mati. Aku menggembungkan pipiku tanda protesku ke Satria, “Eh, sori-sori Ram. Gak sengaja hehe.”

“Tapi agak serem ini, nanti kalian pada takut ikut darmawisata besok.” Doni menambahkan. Kali ini Doni jorok. Masa makan kerupuk udang aja sampe tumpah-tumpah, muncrat lagi ke mukaku. 

“Hah? Kok bisa? Tenang aja Don. Aku ini pemberani kok! Tapi gak tau kalau si Rama.” Satria menoleh ke arahku yang lagi bersihin muka dari muncratan kerupuk Doni.

“Aku berani juga kok! Aku juga berani sama kodok!”

“Hahaha, oke-oke. Tapi diem-diem aja ya. Soalnya kalau ini banyak yang tahu nanti ada yang marah.” Doni membuat kami terdiam serius mendengarkannya.

“Si, si, siapa yang marah Don?” Tanya Satria penasaran tapi takut.

“Hantu anjing jembatan.” Doni menjawab mantap, “Cerita ini aku denger dari kakakku yang udah pernah ngalamin ini. Jadi di Bukit Suharto, tempat darmawisata sekolah kita besok ada jembatan gantung yang tinggi banget. Nah, katanya di sana sering muncul penampakan hantu anjing. Makanya namanya Hantu anjing jembatan.”

Aku dan Satria terdiam, terpaku. Tapi lebih tepatnya ketakutan. Aku udah mulai kebelet, tapi kalau aku kebelakang sekarang, nanti aku diejek sama Doni dan Satria. Aku harus kuat!

“Jadi dulu tuh, ada satu keluarga, ayah, ibu, dan dua anak yang lagi bertamasya, mereka juga membawa anjing peliharaannya buat ikut. Nah, ketika itu mereka naik jembatan gantung di sana, tapi anjingnya ditinggal di mobil. Kan jembatan gantung itu gak boleh dinaikin sekaligus. Jadi harus satu-satu.” Lanjut Doni, “Sayangnya kedua anak mereka tidak mengikuti peraturan yang ada. Jadi kedua anak itu berlari-lari di jembatan berdua, bahkan berloncat-loncat.

“Terus mereka berdua jatuh?” Tanya Satria gak sabaran.

“Gak, lebih parah malah! Jembatannya putus! Tapi beruntung putusnya cuma salah satu pegangan di jembatan. Nah, orang tua mereka mencoba menolong kedua anak itu. Ayahnya merayap di jembatan, dan Ibunya berteriak di dekat jembatan meminta pertolongan. Sepertinya mereka lagi gak beruntung. Ketika Ayahnya sudah sampai di tengah, eh talinya malah putus semua. Dan talinya yang di dekat Ibunya tertarik juga, sehingga membuat kaki Ibu juga terikut tarikan talinya ke bawah.” Doni menjelaskan dengan masang topeng singa. Niatnya sih mau nakutin kita, tapi malah pengen mukul. 

“Akhirnya sekeluarga jatuh dari jembatan gantung dan meninggal. Lalu anjing yang ditinggal di mobil itu akhirnya dikeluarkan oleh penduduk setempat. Nah karena anjing itu tidak tahu kalau keluarga yang memelihara dia udah gak ada. Akhirnya anjing itu selama bertahun-tahun menunggui jembatan itu sampai selesai diperbaiki. Tapi anehnya setelah jembatan selesai diperbaiki, anjing itu hilang! Nah kabarnya sih anjing itu jadi hantu penunggu jembatan itu.”

Aku menelan ludah. Satria juga menelan ludah. Kita sama-sama menelan ludah. Ah aku juga ga sadar baksoku yang tadi kusisain sudah habis dimakan oleh Doni. Sialan!

“Untung aku gak jadi ikut darmawisata besok hahaha. Jadi kalau kamu naik jembatan itu terus kamu ngeliat ke arah bawah. Maka hantu anjing berwarna hitam dan sebesar harimau itu akan muncul menerkammu dari bawah sampai kamu terjatuh ke bawah. Jadi pas kamu jalan di jembatan, jangan sekali-sekali melihat ke bawah.” Doni terlihat senang melihat kami berdua pucat pasi. 


…


Aku masih berusaha menghilangkan rasa takutku dengan terus melihat kea rah Nesya. Kupikir kalau aku melihat orang yang aku.. Ah sudahlah, aku bisa lebih tenang. Tapi ketika mendengar perintah Pak Danu kalau ketika menyebrangi jembatan kita jangan sekali-sekali melihat ke bawah, aku semakin yakin cerita Doni itu benar. Astaga, kenapa mama memaksaku ikut darmawisata ini! Kenapa ketika mama memberitahu kalau Nesya ikut darmawisata aku seperti lupa cerita hantu Doni. Tidak! Aku menyesal!




Perlahan tapi pasti giliranku semakin dekat, aku juga semakin takut soalnya Satria yang juga mengetahui cerita ini tidak ikut dalam acara darmawisata ini dikarenakan dia sakit. Tapi aku tahu dia hanya membohongi orang tuanya kalau dia sakit. Sebenarnya dia hanya takut! Kita sama-sama mengompol ketika mendengar cerita Doni sampai selesai. Dua giliran lagi, adalah giliranku. Tanganku semakin dingin.


…


Rasanya. Aku ingin memberitahukan Nesya akan cerita ini, aku gak pengen dia dijahati oleh hantu anjing jembatan itu! Tapi aku terlambat Nesya sudah sampai di tengah. Bahkan dia melambaikan tangannya kepadaku. Aku hanya bisa membalas lambaian tangannya dengan senyum yang pahit. Bajuku basah karena keringatku yang terus mengucur, “Sekarang giliranmu Rama.” Pak Danu menyuruhku untuk menyebrangi jembatan mengerikan ini.

“Pak, saya mau pipis pak.” Aku mencari alasan.

“Ah malah bagus! Di sebrang sana ada wc kok. Kamu nyebrang dulu, jadi kamu bisa langsung pipis.” Jawab Pak Danu santai.

Aku hanya bisa menepok jidat. Alasanku gagal meyakinkan Pak Danu kalau aku tidak ingin menyebrangi jembatan ini. Aku semakin deg-degan, dan teman-temanku yang disebrang sana mulai meneriaku dan memanggilku, bahkan ada yang mengejekku karena aku tidak berani menyebrangi jembatan ini. Ah kalian tahu apa sih? Untung aja kalian gak dimakan hantu anjing itu! Akhirnya Nesya sudah sampai di sebrang dan memanggilku. Aku semakin ciut. Nesya dan hantu anjing jembatan adalah hal yang berbeda!

Aku yang dari tadi keringat dingin, menahan pipis, dan juga ketakutan akhirnya tidak kuat menahan itu semua. Tekanannya terlalu mengerikan. Aura jembatan seakan-akan berubah gelap! Dalam pikiranku jembatan itu bergoyang dahsyat, seperti jembatan itu bisa putus kapan saja. Dan jelas di bawah jembatan itu berubah gelap, sepertinya anjing itu akan keluar ketika aku mulai melangkah. 

Aku akhirnya menitikkan air mata. Aku sudah gak kuat menahan kengerian ini semua, “Loh, Rama kamu kenapa menangis? Kamu takut ketinggian?” Pak Danu buru-buru mengeluarkan sapu tangan untukku.

Aku semakin menjadi-jadi menangisnya. Aku terlalu takut, aku gak peduli lagi celanaku kena ngompol. Yang jelas aku gak mau ngelewatin jembatan ini. Pak Danu sibuk menepuk kepalaku, dan berusaha meyakinkanku untuk bisa berani menyebrangi jembatan gantung ini, bahkan aku diiming-imingi coklat kalau aku sampai di sana. Tapi Pak Danu gak tahu permasalahan hantu anjing itu. Semua berpikir aku takut ketinggian, padahal gak sama sekali! Aku gak cerita tentang hantu ini soalnya biar yang lain gak kena kutukan hantu anjing jembatan itu. Aku gak tahu lagi selain harus menangis.

Nesya yang melihatku dari kejauhan tiba-tiba berbalik ke arahku. Sedangkan teman-teman yang lain ada yang mengejekku dan tertawa sekencang-kencangnya. Huh mereka semua gak mengerti! Nesya sedikit berlari ke arahku. Ah Nesya aku takut.

“Rama, kamu kenapa?” Nesya bertanya padaku yang sedang menutupi mukaku dengan lututku, “Ayok, aku temenin nyebrangnya.” 

Nesya memberikan tangannya untuk kugenggam. Aku yang sedang terisak itu sekejap berhenti menangis. Sepertinya Nesya dengan barang-barang pinknya seperti bidadari yang turun untuk menolongku dari kengerian hantu anjing jembatan itu, “Tuh Rama, nyebrangnya ditemenin sama Nesya.” Pak Danu tersenyum melihat kami berdua. 

Aku yang mengisap ingus karena abis nangis, akhirnya menyambut tangan Nesya. Aku menggenggam erat tangan Nesya. Rasanya tenang banget, aku merasakan seperti cerita hantu anjing jembatan itu hanya bohong belaka. Akhirnya aku berdiri, dan ternyata celanaku ikut basah karena pipisku yang gak sengaja keluar ketika aku menangis ketakutan itu. Nesya yang melihat celanaku yang basah agak tertawa sedikit. Ah aku jadi malu, tapi aku senang, akhirnya aku tersenyum juga.

Akhirnya kita berdua perlahan menyebrangi jembatan itu. Aneh ya? Kok aku gak takut lagi ya? “Kamu jangan lihat kebawah ya.” Nesya mengingatkanku. Ah Nesya kamu jahat aku jadi teringat lagi, senyumku yang sebelumnya ada jadi hilang.




Ajaib! Aku akhirnya bisa melewati jembatan itu dengan selamat!

Teman-temanku semua bertepuk tangan ketika aku sudah sampai di pos selanjutnya. Tapi mereka sekaligus tertawa ketika melihat celanaku yang basah gara-gara ngompol. Tapi yasudahlah malu sedikit yang jelas hantu anjing itu tidak muncul ketika aku menyebrangi jembatan itu.


…


“HAHAHAHA Lucu sekali kamu Rama!” Pak Danu menertawaiku ketika aku menceritakan kenapa aku merasa takut ketika berada di atas. Iya aku menceritakannya, soalnya kita sudah mau pulang dari darmawisata dan kita ada di atas tanah, gak di atas jembatan itu lagi. Nesya yang ikut berbincang dengan Pak Danu juga ikut tertawa mendengar ceritaku. 

“Bapak juga pernah dengar cerita itu, tapi itu sudah lama sekali ketika bapak kecil. Bapak tidak mengerti kenapa di jaman kamu masih ada cerita seperti itu. Hahahaha Rama kamu lucu sekali.” Pak Danu bukannya menghiburku malah menertawaiku, “Tenang saja Rama itu semua bohong, cerita itu ada karena untuk membuat anak-anak SD seperti kalian tidak melihat bawah ketika menyebrangi jembatan. Karena kebanyakan anak-anak takut akan ketinggian, dengan melihat ke bawah mereka akan jadi takut menyebrangi jembatan gantung yang tinggi itu.”

“Ja, jadi Doni bohong?” Aku gak percaya apa yang kudengar. 

“Doni hanya beruntung bisa tahu cerita itu. Tapi bapak yakin dia akan menyesal tidak mengikuti darmawisata ini ketika dia dewasa. Setiap darmawisata adalah hal yang sangat menyenangkan dan tak terlupakan. Seperti hari ini, kamu dan Nesya. Benar kan?” Lanjut Pak Danu

Aku hanya bisa terdiam malu, tapi lega. Setidaknya yang aku takutkan ternyata tidak benar. Dan semua itu hanya bohong belaka. Untung saja aku membawa celana ganti jadi aku gak harus terus-terusan diketawain oleh yang lain. Tapi yang bisa kuambil dari sini, aku semakin dekat dengan Nesya. Dialah bidadari penyelamatku. Dengan pakaian serba pink itu. Dia satu-satunya cewek yang sangat pemberani di sekolah ini. Itulah kenapa aku suka padanya. Aku yang telah mendapatkan coklat dari Pak Danu sebagai hadiah menyebrangi jembatan, akhirnya aku memberikan ke Nesya, “Makasih ya Nesya. Kamu hebat!” Nesya hanya tersenyum manis menerima coklatku.

Doni, Satria, eh Satria juga korban ding. Awas ya kamu Doni!





Tuesday, June 4, 2013

Perang Malam Minggu (Part 2)

"Ka Boni.."

"Kenape Jak? Elu jangan sok ngalah gitu deh kalo main sama gue, gue gak suka elo gak serius lawan gue! Camkan itu!" Bentak Boni sok galak, soalnya dia punya brewok. Jadi harus galak!

"Bukan itu kak.. Dih galak amat sih. Ini nih, kok ada yang geli-geli ya di selangkangan?" Jawab Jaka melas tapi keenakan.

"Apaan sih! Jorok amat. Hih! Noh elo lagi gue kasi jurus besar." Boni gak urus dengan keadaan Jaka yang makin lama makin kegelian.

"Buset kak, serius ini... KAK ADA ULAR LEWAT! ARGH! ULAAAAAAAR" Jaka loncat girang terus roll belakang terus kejeduk terus pingsan. Kawatir ularnya bakal masuk ke selangkangan dan pahanya lagi akhirnya dia bangun lagi. Terus naik lemari.

Ular berukuran sekitar 30 cm berwarna hitam itu tertawa ngikik melihat Jaka yang responnya terlalu lebay. Karena dia senang gangguin Jaka, dia juga menuju Boni yang masih gak sadar teriakan Jaka. Boni terlalu fokus, soalnya dia lagi menang lawan Jaka. "ULARNYA JALAN KE PANTATMU KAK!" Teriak Jaka gak santai dari atas lemari.

Jaka yang masih bingung di atas lemari mencari akal untuk menolong kakaknya. Ceritanya ini lagi slow motion ya, jadi ular jalan ke pantatnya Boni itu juga lambat. Jaka melihat-lihat ke sekelilingnya dari atas lemari, dia melihat sesuatu yang oke. Karena hobi Jaka main game action, jadi ketika dia melihat barang di bawah ini, apa yang ada dipikirannya?




Iya. Jaka tanpa pikir panjang langsung lompat ke lampu gantung dirumahnya yang jaraknya ga begitu jauh dari depan lemarinya demi kakaknya yang tercinta terhindar dari serangan ular itu. Hap! Tangannya sudah bergantung di lampu gantung itu. Jaka kemudian mengayunkan badannya ke arah depan kakaknya yang lagi duduk fokus main game, sedangkan ular tersebut sudah berjarak 24,5 cm dari pantat kakaknya. 

Syuuu..

Jaka melompati sekaligus menjitak kepala Boni dari atas, terus mendarat tepat di depan muka Boni. "Argh! Jak! APAAN SIH LO! LO GA SUKA GUE MENA..." Teriak Boni kesakitan abis kepalanya aduhai dijitak Jaka. Belum selesai Boni ngomong, dengan sigap Jaka menutup mulutnya terus ngebanting Boni. Ah lupa, ternyata Jaka juga ahli judo. Sama seperti halnya Boni. Sudahlah. Jaka ngebanting Boni dengan alasan agar Boni yang loadingnya lambat ini bisa lekas sadar kalo dia itu sedang terancam. Ah luar biasa memang kedua bersaudara ini, badan masi kecil tapi serem cuy!

"Tuh kak! Liat! Ada ular! Buset gue udah teriak mampus masih aja ga sadar." Kata Jaka dongkol, kata-katanya dia gak pernah didengar Boni dengan baik.

"Ergh.." Boni cuma bisa mengeluh kesakitan habis dibanting Jaka. "Ah elu sama ular aja takut"

"Heh?" Jaka kaget kakaknya yang melihara brewok -cuma buat nutupin fakta kalo dia tuh takut sama kecoak terbang- itu ternyata santai aja ngeliat ular yang serem gitu. Wow. Jaka tepuk tangan dalam hati. 

Dengan sigap Boni membuat posisi kuda-kuda untuk menangkap ular. Jaka diam termangu melihat kakaknya beraksi. Dia terkagum-kagum ngeliat kakaknya yang masih SMP kelas 2 itu berani sama ular. Luar biasa! Tapi ternyata lagi-lagi Boni tuh cuma sok-sokan aja. Dia akhirnya keringat dingin sambil terkentut-kentut ketika ular itu mulai mendatangi dia. Lama. Boni diam saja gak bergerak padahal ular semakin deket, akhirnya Jaka jengkel, ditendanglah pantat Boni sehingga Boni terguling menuju ular tersebut.

Karena Boni ahli judo, yah walaupun agak gak nyambung sama skillnya, tapi dengan cekatan ketika dia terguling dia bisa mendapatkan kepala ular di genggamannnya. "YEAAAHHH!!!" Teriak Boni dengan penuh kemenangan. Jaka juga ikut teriak kenceng kayak abis ngeliat Cristiano Ronaldo nyetak gol sambil nungging. Tapi euforia kemenangan itu gak berjalan lama. Ular yang pintar itu walaupun kepalanya digenggam oleh Boni, tapi badannya dengan sigap melilitkannya ke lengan Boni. 

"Argh" Boni teriak kemudian melempar tuh ular ke arah sofa yang disampingnya. Boni ternyata gak tahan geli menghadapi ular yang menggelayuti lengannya. Kemudian dia lari kegelian sambil goyangin pantatnya ke arah Jaka.

"Brewok aja sangar, ujung-ujungnya gak tahan geli juga." Cemooh Jaka ke Boni. 

"Men, gelian sama brewok gak ada hubungannya. Itu dua hal yang berbeda banget. Gelian gue tuh tandanya istri gue cantik nanti. Sirik aja lu!" Boni ngelesnya jago banget. Entah, harus kasihan atau bagaimana. 

Kedua bersaudara kemudian mencari-cari kemana perginya si ular itu. Gak mungkin kan mereka bisa tidur nyenyak kalau di rumah mereka berkeliaran ular yang sangat jahat. Kalo pas kita tidur pantat kita digigit gimana? Kan ntar jadi zombie. Grrr. Ntar gak ada yang suka sama Boni dan Jaka kalo muka mereka kayak zombie. Hiii.

Tapi ternyata aksi melemparnya ular itu ke sofa adalah salah besar. Ular itu terlalu pintar untuk dilempar ke sofa. Dia malah senang bisa tidur di sofa empuk, eh bukan ding dia bisa sembunyi di bawah sofa yang ternyata sofa mereka menyimpan rahasia yang sangat mengerikan. Apakah itu? Kita tunggu setelah iklan yang mau lewat ini.

...

Boni dan Jaka masih sibuk mencari ular yang nyungsep di sofa dari jarak jauh. Mereka terlalu takut geli buat deket-deket sama ular. Asal kalian tahu saja, kulit ular itu agak licin dan menggelikan. Pokoknya brrrr deh. Sesaat ketika mereka sedang mencari, terdengar suara yang agak aneh dan agak berisik. Grusak-grusuk gitu. Suara itu berasal dari bawah sofa mereka. Semakin lama semakin nyaring. Kemudian..

Wuuungg! Wuuung! Wuuuung!

Kecoak terbang! Ratusan kecoak terbang keluar dari bawah sofa yang dimasuki ular tadi. Eh gak semua terbang ding, ada yang jalan juga merayap keluar. TAPI TETEP AJA ITU KECOAK!!!!! Jadi ternyata di bawah sofa itu ada sarang kecoak yang sangat besar. Markas besar kecoak emang baru pindah sehari dari kandang kambing di belakang rumah karena kandang kambing terlalu bau untuk para kecoak itu. Padahal mereka baru saja beres-beres pindahan eh ada ular datang, mereka ngibrit deh keluar sofa!




Boni dan Jaka yang awalnya lagi asik-asik ngeliatin sofa kaget setengah mati ngeliat rumahnya diserang banyak kecoak dan satu ular. Mereka sontak lari sambil sesak napas soalnya masih shock seakan tak percaya melihat kejadian luar biasa yang ada di rumah mereka. Malam minggu menyeramkan. 

Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam kamar mereka sambil ngos-ngosan. "Kak, gimana ini? Rumah kita sedang diserang." Jaka yang kehabisan napas mengajak Boni mencari strategi bagaimana menghadapi serangan maut malam minggu ini. Saking paniknya Jaka menangis sampai keluar ingus. Dia masih shock. Maklum dia masih kelas 5 SD. 

"Bagaimana pun juga kita harus menumpas mereka semua. Tidak ada cara lain." Jawab Boni dengan penuh wibawa. Tapi kalau Boni yang ngomong gitu tetep aja jadinya lucu. Mukanya gak cocok buat ngomong begituan. Kasian sih, tapi mau gimana lagi?

Boni membuka pintu kamarnya sedikit kemudian mengintip apa yang terjadi di ruang tengah rumahnya. Ternyata para kecoak masih asik terbang sana-sini, ada yang masuk ke lemari buku, ada yang masuk ke wc, ada yang masuk kamar. Iya kamar. Salah satu kecoak berhasil menyusup ke kamar tempat Boni dan Jaka bersembunyi! "WOOY!" Teriak Boni kemudian langsung menutup pintu kamarnya dengan rapat. Satu kecoak masuk ke kamarnya!

Jaka yang memang takut sama kecoak ini langsung naik ke atas kasur kemudian nutupin badannya pake selimut. Boni yang merasa sangar tapi ya juga takut, buktinya dia mau ngambil koran saja sambil gemeteran. Iya Boni mengambil koran yang ada di atas meja kamarnya, kemudian menggulungnya. Dan.. PLAK! Kecoak itu dipukul begitu saja. Gepeng? Iya dong gepeng masa pecah. Kayak di kartun-kartun gitu kalo ada yang dipukul koran ya jadi gepeng. 

"Heh! Kecoak! Siapa bosmu?" Boni meneriaki kecoak yang sudah gepeng itu. Ceritanya sih sok menginterogasi. Tapi kecoak bisa jawab apa?

"Sudah kak, kasihan... Kecoaknya kan udah mati." Jaka memelas pada kakaknya. Yah agak fail sih tapi gapapa deh biar seru. Jaka masih berselimut di atas kasur. Sepertinya dia tidak ada niat untuk membantu kakaknya yang sebenernya juga takut ngehadapin para kecoak dan ular itu.

"Sial! Pasti ular itu adalah bosnya! Dia dendam padaku ketika aku mencet kepalanya terlalu kuat! Sialaaan!!" Umpat Boni sambil membanting gulungan koran ke bawah dari tangannya.

"KAK! Pipo! Pipo ada di ruang tamu!" Teriak Jaka tiba-tiba.

"Pipo? Astaga! Iya!"

Boni kembali mengintip dari pintu kamarnya yang dibuka sedikit, kali ini dia berhati-hati agar kecoak tidak masuk ke kamarnya lagi. Iya Boni melihat Pipo malah loncat kegirangan ngeliat banyak kecoak yang terbang dan merayap ke arahnya. Iya Pipo adalah kucing yang mereka pelihara. Maklum kucing mah kalo ngeliat yang begituan bukannya panik malah seneng.

"Gawat Jak, Pipo diserang!"

Jaka langsung mendekati Boni dan juga mengintip dari pintu untuk memastikan keadaan Pipo diluar. Mereka kemudian saling bingung. Kita harus menyelamatkan Pipo segera. Mereka berdua memikirkan strategi untuk bisa menyelematkan Pipo dari serangan brutal malam minggu. Sungguh malam minggu yang menyeramkan.

Bersambung..

Monday, June 3, 2013

Perang Malam Minggu (Part 1)

Di suatu rumah yang tenang..

Hidup dua orang anak muda yang belum bisa dibilang ganteng, soalnya belum baliq, belum mimpi basah! Hari ini hari minggu, hari dimana anak muda yang ngakunya punya darah yang gampang bergejolak masih berkutat dengan kasur empuknya. Sungguh ironi. Tapi mau bagaimana lagi kedua pemuda ini sedang ditinggal oleh orang tuanya yang sedang bulan madu merayakan ulang tahun pernikahan di Paris!

Boni, si anak sulung bangun untuk yang pertama kali pada pukul 12.24 lebih 2 detik. Kok bisa tau detil? Iya soalnya ini cuma karangan. Gak usah dipikir keras. Boni yang masih merem melek benerin sempak berusaha bangun dari kasurnya yang nyaman. Lalu dia berjalan semaput menuju kamar mandi untuk melihat tahi lalat di hidungnya nambah besar atau gak. "Hmm, gue ganteng juga ya." Boni memuji dirinya sendiri sambil benerin poninya yang pindah kebelakang gara-gara salah tidur. 

Lalu dia mengelus-elus brewok kesayangannya. Menurut dia brewok itu jantan, sangar! Yang berani cari gara-gara sama Boni, sekejap kamu langsung di banting dia dengan jurus Judo, dan dieksekusi terakhir dengan jurus-gosokan-brewok. Kamu bisa membayangkannya sendiri betapa mengerikan dan menggelikannya serangan mematikan Boni. Jadi jangan cari gara-gara ya sama Boni!

Setelah berkaca-ria di kamar mandi. Boni menuju kamarnya dan Jaka. Boni melihat adiknya Jaka, masih ti... Wait! Dimana Jaka? Bukannya kita tidur di kamar yang sama? Boni panik-sepaniknya mencari adik kesayangannya itu hilang kemana. Boni menuju ruang tengah, GAK ADA! Boni berlari menuju kandang kambing di belakang rumahnya, juga GAK ADA!! Duh bisa dimarahin mama nih, begitu pikir Boni yang malah kayang ditengah kebingungan mencari Jaka. Boni pikir dengan kayang, darah akan semakin mengalir ke otak, sehingga dia bisa mikir pinter sekarang. Akhirnya dia diam dan berpikir.

Dia ingat-ingat apa yang terjadi semalam.. Sepertinya tadi malam mereka berdua habis mengalami hal yang melelahkan sehingga bangun kesiangan seperti ini. Tapi apakah itu? Boni duduk di sofa kemudian berpose sok mikir. Dagunya iya tahan dengan punggung tangannya yang bertato jagoan neon. Kemudian merem, sok mikir.

"Jadi semalam itu ada apa yaa.." Boni berpikir keras terus ketiduran..

...

Malam minggu menjadi hal yang menyenangkan bagi anak muda yang masih belum mimpi basah. Kenapa? Selain di rumah lagi sepi soalnya orang tua lagi asik sendiri di luar negeri, mereka sudah merencanakan bakal main Playstation 3 yang baru mereka dapat dari orang tua -sebagai sogokan jaga rumah selama papa-mamanya pergi- semalam suntuk! Sengaja mereka di sore hari beli baygon snek dan permen buat bekal begadang semalaman. Wuhuu!




Mereka memulai ritual begadang semalamannya dengan menari. Iya kedua kakak-beradik ini agak aneh. Boni dan Jaka suka dengan perayaan yang gak penting. Yah seperti sekarang ini, begadang saja dia bikin rundown acaranya. Berikut rundown acaranya :

19.00 - 19.15   --> Menyanyikan lagu wajib nasional. Indonesia Raya.
19.15 - 19.30   --> Pertunjukan Tari-Sempak-Ditaro-Di-Kepala-Sambil-Lompat-Harimau
19.30 - 20.00   --> Lomba makan snek sampe abis.
20.00 - selesai  --> Tidur Main dong!

Entah kenapa di rundown acaranya ada acara pertunjukan tari dan lomba snek sampe abis. Jaka memang suka luar biasa kalau membuat acara yang aneh-aneh. Yah maklumi saja, namanya juga juara satu lomba makan sendal jepit tingkat kabupaten. Tapi ya lomba snek sampe abis itu.. Bikin speechless, njuk panganan sik nggo lek lek an opo ndes? Gondes-gondes*. (Terus makanan buat begadang apa?)

Kita skip aja 3 acara awal yang terlalu banyak sensornya dan banyak gak gunanya. Walaupun hanya mereka berdua di rumah, mereka bisa membuat suasana sepi di rumah seperti sedang pesta bujang! Padahal ya mereka kan belum mimpi basah, mana ngerti yang namanya pesta bujang! Tapi itulah Boni dan Jaka! Luar biasa! Duh aku penggemar kalian deh pokoknya! 

Mereka memulai bermain Playstation 3 dengan khidmat, mereka memulai dengan bermain Naruto Ultimate Ninja Storm : Naruto vs Sasuke. Mereka menganggap dirinya masing-masing sebagai Naruto dan Sasuke yang suka berantem tapi dalam hati sama-sama suka (?) Jadi mereka berantem tapi sambil ketawa-ketawa. Sampai salah satu dari mereka ada yang kalah terus mereka jadi serius. Pas mulai berantem lagi lanjut ketawa lagi. Begitu seterusnya sampe pagi. 

Tapi..

Malam itu berbeda. Ada hal yang mengerikan yang muncul malam itu. Yang membuat Jaka menghilang di pagi harinya. Apakah itu?

Bersambung..



*Gondes = Gondrong ndeso!