Monday, June 3, 2013

Perang Malam Minggu (Part 1)

Di suatu rumah yang tenang..

Hidup dua orang anak muda yang belum bisa dibilang ganteng, soalnya belum baliq, belum mimpi basah! Hari ini hari minggu, hari dimana anak muda yang ngakunya punya darah yang gampang bergejolak masih berkutat dengan kasur empuknya. Sungguh ironi. Tapi mau bagaimana lagi kedua pemuda ini sedang ditinggal oleh orang tuanya yang sedang bulan madu merayakan ulang tahun pernikahan di Paris!

Boni, si anak sulung bangun untuk yang pertama kali pada pukul 12.24 lebih 2 detik. Kok bisa tau detil? Iya soalnya ini cuma karangan. Gak usah dipikir keras. Boni yang masih merem melek benerin sempak berusaha bangun dari kasurnya yang nyaman. Lalu dia berjalan semaput menuju kamar mandi untuk melihat tahi lalat di hidungnya nambah besar atau gak. "Hmm, gue ganteng juga ya." Boni memuji dirinya sendiri sambil benerin poninya yang pindah kebelakang gara-gara salah tidur. 

Lalu dia mengelus-elus brewok kesayangannya. Menurut dia brewok itu jantan, sangar! Yang berani cari gara-gara sama Boni, sekejap kamu langsung di banting dia dengan jurus Judo, dan dieksekusi terakhir dengan jurus-gosokan-brewok. Kamu bisa membayangkannya sendiri betapa mengerikan dan menggelikannya serangan mematikan Boni. Jadi jangan cari gara-gara ya sama Boni!

Setelah berkaca-ria di kamar mandi. Boni menuju kamarnya dan Jaka. Boni melihat adiknya Jaka, masih ti... Wait! Dimana Jaka? Bukannya kita tidur di kamar yang sama? Boni panik-sepaniknya mencari adik kesayangannya itu hilang kemana. Boni menuju ruang tengah, GAK ADA! Boni berlari menuju kandang kambing di belakang rumahnya, juga GAK ADA!! Duh bisa dimarahin mama nih, begitu pikir Boni yang malah kayang ditengah kebingungan mencari Jaka. Boni pikir dengan kayang, darah akan semakin mengalir ke otak, sehingga dia bisa mikir pinter sekarang. Akhirnya dia diam dan berpikir.

Dia ingat-ingat apa yang terjadi semalam.. Sepertinya tadi malam mereka berdua habis mengalami hal yang melelahkan sehingga bangun kesiangan seperti ini. Tapi apakah itu? Boni duduk di sofa kemudian berpose sok mikir. Dagunya iya tahan dengan punggung tangannya yang bertato jagoan neon. Kemudian merem, sok mikir.

"Jadi semalam itu ada apa yaa.." Boni berpikir keras terus ketiduran..

...

Malam minggu menjadi hal yang menyenangkan bagi anak muda yang masih belum mimpi basah. Kenapa? Selain di rumah lagi sepi soalnya orang tua lagi asik sendiri di luar negeri, mereka sudah merencanakan bakal main Playstation 3 yang baru mereka dapat dari orang tua -sebagai sogokan jaga rumah selama papa-mamanya pergi- semalam suntuk! Sengaja mereka di sore hari beli baygon snek dan permen buat bekal begadang semalaman. Wuhuu!




Mereka memulai ritual begadang semalamannya dengan menari. Iya kedua kakak-beradik ini agak aneh. Boni dan Jaka suka dengan perayaan yang gak penting. Yah seperti sekarang ini, begadang saja dia bikin rundown acaranya. Berikut rundown acaranya :

19.00 - 19.15   --> Menyanyikan lagu wajib nasional. Indonesia Raya.
19.15 - 19.30   --> Pertunjukan Tari-Sempak-Ditaro-Di-Kepala-Sambil-Lompat-Harimau
19.30 - 20.00   --> Lomba makan snek sampe abis.
20.00 - selesai  --> Tidur Main dong!

Entah kenapa di rundown acaranya ada acara pertunjukan tari dan lomba snek sampe abis. Jaka memang suka luar biasa kalau membuat acara yang aneh-aneh. Yah maklumi saja, namanya juga juara satu lomba makan sendal jepit tingkat kabupaten. Tapi ya lomba snek sampe abis itu.. Bikin speechless, njuk panganan sik nggo lek lek an opo ndes? Gondes-gondes*. (Terus makanan buat begadang apa?)

Kita skip aja 3 acara awal yang terlalu banyak sensornya dan banyak gak gunanya. Walaupun hanya mereka berdua di rumah, mereka bisa membuat suasana sepi di rumah seperti sedang pesta bujang! Padahal ya mereka kan belum mimpi basah, mana ngerti yang namanya pesta bujang! Tapi itulah Boni dan Jaka! Luar biasa! Duh aku penggemar kalian deh pokoknya! 

Mereka memulai bermain Playstation 3 dengan khidmat, mereka memulai dengan bermain Naruto Ultimate Ninja Storm : Naruto vs Sasuke. Mereka menganggap dirinya masing-masing sebagai Naruto dan Sasuke yang suka berantem tapi dalam hati sama-sama suka (?) Jadi mereka berantem tapi sambil ketawa-ketawa. Sampai salah satu dari mereka ada yang kalah terus mereka jadi serius. Pas mulai berantem lagi lanjut ketawa lagi. Begitu seterusnya sampe pagi. 

Tapi..

Malam itu berbeda. Ada hal yang mengerikan yang muncul malam itu. Yang membuat Jaka menghilang di pagi harinya. Apakah itu?

Bersambung..



*Gondes = Gondrong ndeso!

Sunday, June 2, 2013

Bayi

Pernah kebayang ga sih kita berada di badan seorang bayi, tapi pikiran kita sudah seperti dewasa? Pernah dong ya, itu udah umum banget khayalan buat orang-orang tua kayak kita ini. Dan aku pun salah satu dari orang itu. Mumpung ga ada salahnya kita sedikit berkhayal. Yuk berkhayal. Seandainya ada mesin waktu di depan kita. Dan..

Wuss..

Aku membuka mata, dan aku sekarang berada di.. Hmm.. Di atas kasur yang empuk, tapi.. Aku gak bisa bergerak! Ergh. Aku berusaha menggerakkan tangan aja susahnya minta ampun. Aku lagi dimana ini! 

Ah ternyata aku lagi digedong. Entah aku sebenernya gak tau detil kenapa sih bayi itu harus digedong, yang aku tau katanya digedong itu buat kaki bayi ga bengkok. Bener apa gaknya, aku gak ngerti. Yang jelas aku salah berkhayal. Bagaimana bisa mainan? Kalo misalnya tiap hari digedong gini. Cuma merem melek aja kegiatannya. Sama klamut klamut pake lidah karena gigi yang belum tumbuh.

Yasudah, kita ganti waktu dan tempat. Biar lebih seru. Sepi gini gak ada orang, mungkin lagi pada pergi kerja.

Wuss..

Aku membuka mata, dan wow! Aku sedang merangkak! Wih canggih juga nih aku udah bisa ngerangkak aja. Lagi-lagi di kamar dan di atas kasur yang empuk. Entah kenapa bayi itu memang identik dengan kasur. Tapi bagi orang tua seperti aku ini kasur adalah hal yang menyenangkan. Dan kali ini banyak orang yang menyambutku. Wihiy! Sepertinya kita sedang bermain tangkap-aku-kalo-bisa dengan beberapa orang. Sepertinya itu Orang tuaku, Om, dan Tanteku yang sedang berkunjung. 

Aku pun merangkak cepat ke arah tanteku yang terlihat cantik. Maklum pasangan muda. Ah, entah kenapa perasaanku seperti bahagia sekali ketika aku mulai merangkak cepat, tanpa sadar aku tertawa sendiri sambil merangkak menuju Tanteku. Dan tanteku pun menangkapku sambil tertawa juga. Kami pun yang berada di  kamar yang sama sontak tertawa bersama juga karena aku tertawa makin nyaring ketika mulai diangkat ke pelukan Tante. 

"Aaaah, lucunya ponakan Tante ini. Duh Pram, mirip banget Jalu denganmu. Pipinya tembem dan punya lesung pipit." Tante memujiku, kemudian dengan cekatan tante mulai menciumi aku dari pipi sampai ke udel. Ah, aku gak tahan, sensasi ini terlalu menggelikan. Aku tertawa menahan geli, dan entah kenapa tante semakin semangat mencium udelku. Sebegitu menarikkah udel seorang bayi untuk diciumi?

Om dan Orang tuaku hanya tertawa melihat aku dibully oleh Tanteku. Setelah Tante, sekarang gantian Om yang menggendongku. Dan kalian tau apa yang terjadi selanjutnya? "Nih Jalu, rasakan serangan Om!" Kata Om sambil tersenyum senang. Jenggot dan kumis tajam yang dimiliki Omku dengan beringas diarahkan ke perutku yang mulus ini. Aaargghhh. Kejam sungguh kejaaaam! Parah. Aku tertawa sejadi-jadinya. Tapi sekeras-kerasnya bayi tertawa itu adalah hal yang menyenangkan untuk didengar oleh para orang tua. Seandainya aku minum cukup tadi sebelum bermain, mungkin sudah kupipisi muka Omku. Argh.

Aku yang gak tahan geli ini, memilih ganti waktu dan tempat daripada dibuat geli seperti ini terus. Mereka hanya senang membuatku tertawa padahal kan tertawa menahan geli itu rasanya ga enak. Rasanya tuh kayak kamu diikat terus kamu dibuat geli dikaki dengan bulu, sampai rasanya pengen ngompol dan nangis. Ih dongkol!

Wuss..

Aku membuka mata, dan.. Hmm.. Ini adalah moment yang paling awkward. Sebenernya penasaran sih rasanya gimana, tapi tetep aja awkward banget. Aku pun terlalu malu dan sepertinya harus memilih ganti waktu dan tempat lagi. "Jangan terlalu lama di sini." Begitulah pikirku.

Dikamar, dengan keadaan aku digendong oleh Ibu. Yang siap untuk memberikan ASI ekslusif kepada bayi kesenangannya. 

Wuss..

Aku membuka mata, dan.. Wow! Pipiku sedang dicium oleh bayi lainnya! Sepertinya dia lebih tua satu tahun dari aku. Dan dari cara dia berpakaian sepertinya dia adalah perempuan. Bayi tidak akan ada bedanya kalau  tidak dibedakan oleh baju. Begitu kalau menurutku.


Sepertinya aku sedang di arisan ibu-ibu. Kami para bayi di satukan didalam ruangan dan diberi mainan, setidaknya ada 5 bayi di sini, dan diawasi oleh salah satu orang remaja perempuan. Mungkin dia adalah kakak dari salah satu bayi disini. Sudahlah tidak penting. Asal dia tidak membuatku geli di udel lagi. 

Inilah saat-saat yang aku tunggu! Bergaul dengan bayi-bayi lainnya. Walaupun aku gak yakin banget kita bakal bisa berkomunikasi dengan baik. Bayangkan kita cuma bisa ngomong "Hah, huh, kya, blub, nyanyanya." Padahal dalam hati aku sudah berusaha berbicara dengan baik, tapi entah kenapa yang keluar cuma seperti itu, bahkan air liur berbusa yang keluar.

Aku mendatangi bayi yang mencium pipiku tadi dengan merangkak. Dia sedang bermain donat-donatan.  Dengan rambut yang bergelombang menggunakan bando merah yang unyu. "Nya,nya,nya,nyaaaa"-Aku boleh ikut gak?- Sapaku ke dia. Aku berbaik hati, meraih donat yang sedang digigitnya, yah namanya bayi apa aja diemut, padahal kan itu jorok. Bayi tidak mengerti ini. Tapi ketika aku mencoba meraih donat itu, entah kenapa aku gak bisa mengontrol kekuatanku. Meraih donat tiba-tiba menjadi memukul donat ke bawah. Ah, dasar bayi, ototnya belum jadi benar. 

Tapi ketidak-sengajaanku tadi membuatnya menangis tiba-tiba. Ergh! Duh aku lupa kalau bayi itu sensitif dan cengeng. Aku yang tidak tau mau menanggapi seperti apa. Aku lanjut aja main donat-donatan. Donat itu kususun seperti membuat gedung tinggi. Tapi, bayi yang bermain donat tadi makin nyaring nangisnya. Sontak, bayi lain yang sedang sibuk mainan sendiri juga ikutan nangis. Jadilah nangis massal. Aku yang asik main donat tidak peduli.

Kakak perempuan yang menjaga kami langsung sigap menggendong bayi yang bermain donat tadi. Mencoba mendiamkan bayi itu dengan menggendong dan menyanyikan lagu. Sedangkan bayi yang lain? Orang tua yang tadi lagi arisan tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Dan menggendong semua bayinya masing-masing. Aku ditinggal sendiri. Toh aku ga peduli, membuat tumpukan donat yang tinggi dan tidak jatuh lebih seru menurutku.

Ah. Sepertinya memang aku tidak disukai oleh bayi. Padahal aku sudah menjadi sesama bayi. Tetap saja auraku tidak seperti itu. Oke. Sepertinya cukup dulu. Dunia bayi itu memang sangat lucu dan tanpa beban. Tapi bayi itu masi banyak hal terbatasnya. Saatnya kembali ke dunia nyata.

Wuss..

Saturday, June 1, 2013

Orang Bilang, Jangan Gampang Menyerah

Celana training dengan tali klewer-klewer, kaos oblong robek di ketek, dan jelas dengan gigi yang belum disikat sedari pagi. Entah, sudah tau dandanan begini, masi aja berani jalan-jalan di toko buku. Yang notabene, hmmm, pasti banyak cewe-cewe oke *ngelap iler*

Tapi peduli amat lah, yang penting muka ganteng, yang lain bisa dimaklumi. Enak ya jadi orang ganteng ternyata? fufufu. Aku ntah kenapa sudah lama tak bertandang ke toko buku. Dan ketika aku mulai memasuki pintu depan. Aaah, aroma buku baru. Delicious! Benar apa perkiraanku, toko buku dimayoritasi oleh para wanita, sayangnya belum ada yang bisa menarik hatiku *benerin rambut*

Aku sibuk benerin tali kolor training yang kupakai. Urgh, lain kali mending ganti tali rapia aja daripada ribet nali tali kolor yang suka melar kemana-mana. Yah sudah menjadi hobiku untuk menikmati waktu luang di toko buku, disamping aku sangat suka dengan aroma buku baru, aku juga sangat suka dengan aroma parfum wanita di toko buku. Memang toko buku itu istimewa, banyak kaum hawa yang bermain di sini. Beruntungnya aku. 

Tempat pertama kali yang kudatangi adalah rak komik. Iya lelaki jantan sepertiku sudah sewajibnya menyukai komik. Itu wajib. Suka komik sama dengan jantan banget. Prinsip yang selalu kupegang dari kecil. "Permisi mas, kalau buku tentang agama gitu dimana ya?" Seorang pria paruh baya bertanya padaku. Men! Emang dandananku udah kayak penjaga toko? Ah gak kok! Gagah gini. 

"Oh anu pak, di sebelah utara pak. Pojok." Jawabku dengan senyum agak maksa, soalnya bibirku gemeteran nahan posisi senyum. Ah bukannya dapet mba-mba oke malah bapak-bapak. Sudahlah mungkin emang nasib. Aku pun kembali sibuk nyari komik baru yang oke. 

Sampai ketika adegan-wajib-di-ftv muncul di depanku. 

Setelah aku mendapatkan komik yang aku mau, aku langsung menuju kasir untuk membayar. Tenang aja aku ga masukin ke sempak buat bawa kabur tuh buku baru. Walaupun muat, tapi tetep aja yang lain bakal ilfil ngeliat ada bentuk kotak gitu di depan celanaku. Okeh lupakan. Ketika menuju kasir, aku melewati rak buku majalah memasak dengan sesosok wanita oke didepan rak itu sedang memilih buku. Ah aku terlena. Aku gak berkedip, tapi aku tetap jalan. Alhasil tiang kayu tak berdosa aku sundul menggunakan jidat lebarku. "ADUH!" Aku mengerang lirih. Lirih banget, soalnya malu kalo ketauan banyak orang.

Wanita itu berbaju hijau, memakai cardigan. Kurus dengan rambut yang terurai. Matanya yang tajam membuat aku seperti tersetrum. Brrr. Argh gara-gara dia jidat lebarku tak lagi mulus seperti dulu. Mungkin aku harus menunda pembayaran di kasir. Aku harus kenalan dengan wanita ini. Minimal aku harus jadian dengannya. Yeah! Siapa berani yang nolak cowo ganteng macam aku ini?

Ini dia cara-cara yang aku pakai :

1. Ngeliatin dia selama 5 detik. 

Katanya di tipi sih kalo kita ngeliatin cewe yang kita demen sampe itungan 5 detik. Kalo si cewe ga ngeliat ke arah kita berarti cewe itu ga cinta sama kita. Kalo si cewe ngeliat juga ke arah kita. Oke! Langsung jadikan. Jadilah aku menggunakan cara ini untuk yang pertama. "Satu.. Dua.. Tiga.." Aku menghitung pelan sambil melihat melotot ke cewe berbaju hijau itu. Ergh kalo sampe lima ga noleh mending guling-guling diaspal aja ini. Malu. 

"Tiga setengah.. Tiga seperempat.. Tiga seperdelapan.." Aku masih ga rela cepet-cepet 5 detik. 

"Empat.. Empat setengah.. Empat seperempat.." Aku udah mulai nangis, ga ada tanggapan dan respon dari si cewe. 

"Lima.." Aku terduduk lemas. Cara pertama gagal, dia ga ada respon. Dia gak cinta sama aku. Hancur hatiku. Berani-beraninya dia tidak melihat gantengnya mukaku ini.

2. Dateng ke deket dia, lalu jatuhkan buku

Ini nih! Cara yang paling aku demen. Diadaptasi dari beberapa serial ftv, aku tanpa basa-basi melakukan cara ini. Aku mendekati dia yang masi sibuk mencari buku masak di rak itu. Rambutku yang berantakan aku rapikan lagi demi mulusnya cara ini. Yap! Aku sampai di depan rak buku masak. Dia hanya berjarak satu meter disamping dia. 

Aku mulai bergerak mendekati dia sambil berlagak sedang mencari buku. Menaruh telunjuk ke arah tumpukan buku, dan bergerak pelan-pelan ke dia. Mataku fokus melihat buku supaya terlihat lebih natural. Dan acara inti. Voila! Komikku sudah jatuh, supaya lebih drama lagi aku menjatuhkannya perlahan dan satu persatu. Cerdas? Sudahlah jangan memujiku terus. Dan supaya lebih eyecatching lagi, buku masak yang tersusun rapi didepanku juga kujatuhkan beberapa. Ah! Sekarang tinggal tunggu respon dia, aku pun merunduk hendak mengambil buku...

...


...

Aku sudah merapikan buku yang jatuh digenggamanku, tapi masih belum ada respon dari cewe berbaju hijau itu. Aku melirik kearahnya. 

Dan.. Epic! Dia sedang ngobrol dengan temannya! Aku menjedukkan kepala ke rak buku beberapa kali. Jidatku semakin tidak rata. Ah! Tapi ketika aku menjedukkan kepalaku ke rak, cewe itu dan temannya melihat ke arahku. Mereka memandang kasihan, atau mungkin jijik? Entahlah yang jelas mata tajamnya yang pada awalnya membuatku melayang, sekarang seperti menusuk tajam ke aku. Aku terdiam. Dia terdiam.

Kali ini juga gagal.

3. Menarik perhatian dia dengan menolong nenek menyebrang jalan.

Maksa nenek yang lagi makan nasi kuning buat nyebrang jalan. Oke! Tapi cewe itu lagi ngantri bayar bukunya. Lagian dia bayar bukunya didalam toko buku, sedangkan aku lagi disebrang jalan. 

Oke, gagal maning, gagal maning.

4. Langsung aja salaman ngajak kenalan, terus nembak ngajak nikah

"Kamulah tulang rusukku yang hilang selama ini" Aku langsung menembak dihadapannya, persis didepan antrian kasir. Semua melihatku. Ada yang melihat jijik, ada yang melihat senang kemudian malu-malu gigit sendal sendiri, ada yang malah sok awkward kemudian pergi dari antrian. Tapi gadis itu tidak. Dia tidak kemana-mana. Dia menghadapiku dengan jentel!

"Cuma kamu yang berani kayak gini ke aku" Dia menjawabku dengan senyumnya yang paling manis, sambil sesekali merapikan poninya yang menghalangi matanya yang melihatku.

"Karena aku yakin, iya. Kamu berbeda dari yang lain." Jawabku dengan semangat. Yeah! Akhirnya aku berhasil juga. Terkadang melakukan hal yang diluar nalar itu bisa memberikan kejutan yang diluar nalar juga. 

...

...

Setelah mencoba 4 kali dan 3 kali gagal untuk bisa menarik perhatiannya, akhirnya aku mendapatkan happy ending dalam usahaku ini. Sungguh terharu. Aku pun langsung meminta tisu ke salah satu orang yang sedang mengantri juga. Dan asiknya dia juga ngasi gitu aja tisu ke aku, padahal kita ga kenal. Mungkin dia terharu dengan kejentelanku yang menembak langsung si cewe berbaju hijau itu.

"Aku senang kamu berani melakukan ini ke aku, dan jelas aku penasaran dengan kamu. Aku tau kok kamu sudah melakukan beberapa aksi sebelum ini, tapi untuk yang ini aku salut." Jelas si cewe berbaju hijau, sambil dia melanjutkan transaksi pembelian dengan kasir. Meninggalkanku yang sedang dalam keadaan mulut menganga, seakan tak percaya.

Setelah membereskan urusan dengan mbak kasir, wanita berbaju hijau perlahan meninggalkanku. Iya sepertinya menanggapiku dengan positif tapi ya sudah. Tak ada kesan yang berarti. "Huh! Dasar PHP!" Kataku dalam hati.

"Tapi.." Cewe itu berbalik menghadapku lagi. "Kalau memang kamu adalah rumah rusukku yang kucari selama ini. Kita pasti akan bertemu kembali suatu saat. Kalau saat itu datang, lamarlah aku dengan benar. Itupun kalau kamu berani." Cewe itu mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku terpana, entah harus menanggapi ini semua. Aku terlalu bingung. Mumet!

"Ah! Iya. Aku Beni! Nama kamu?" Aku meneriaki dia yang makin menjauh dariku.

"Panggil saja Ninda, see you next time Beni! Hope you're the one." 

...

Aku senyum-senyum salah tingkah. Sandal sudah habis aku gerogoti. Lalu apa lagi? Aku terlalu senang. Sudahlah walaupun sebenernya ini digantung. Tapi nyatanya emang aku belum berani untuk bisa lebih macho dan ganteng. Yah sudahlah. Ah! Aku sudah di motor, tapi bukunya.. Dimana? Bodohnya aku, tertinggal di kasir!

Aku balik ke kasir, mengambil buku yang sudah kubeli, lalu pulang kerumah. Setidaknya aku merayakan keberhasilanku ini dengan gosok gigi dan mandi. Merayakan sendiri.

Senyum itu, kedipan mata itu, dan ketika kamu menyebut namaku. Ah! Aku terima tantanganmu Ninda.