Thursday, June 6, 2013

Kejutan dari Panti Asuhan

Kamu ceritanya sedang makan martabak dengan santai di salah satu sudut parkiran kampus. Nongkrong layaknya tukang ojek yang lagi nyari mangsa buat disiulin. Ditambah rokok yang dijepit di antara jari telunjuk dan jari tengahmu, kamu semakin mirip ketua geng motor. Hari libur tidak sama sekali membuatmu malas untuk menjalani rutinitas seperti ini. Makan martabak di siang hari sampai ada orang lewat buat dilemparin puntung rokok yang abis kamu hisap. Dan.. Jangan tanya dapat darimanakah martabak yang kamu makan itu! Mana ada tukang martabak yang jualan di siang hari? Jadi sudah jelas darimanakah martabak itu datang. Sisa begadang semalam.

Kurang kerjaan. Itulah yang kamu kerjakan ketika memang sedang bosan. Bosan dengan kisah asmara yang sekarang lagi musimnya. Macam musim kawin. Entah ada angin apa, yang jelas banyak pasangan baru yang muncul di kampusmu. Bahkan Bandot yang giginya hilang satu di depan itu baru jadian. Huh! Kapan dong giliran kamu? Ah, kamu tidak bisa membohongi diri kalau kamu juga menginginkan itu. Belahan jiwa. Tapi sayang kamu orangnya susah untuk jujur terhadap dirimu.

"Hoy! Ngelamun aje!" Ana menjambak rambutmu yang gimbal dari belakang.

"Anjrit!" Awalnya tidak ada kata-kata selain ini yang muncul dari mulutmu. Kamu terlalu sayang dengan rambut gimbalmu, "Apakah kamu tahu Ana Rizky Fathimah? Kamu telah mencelakakan rambutku yang seperti cahaya dalam hidupku."

"Apakah begitu paduka? Oh, maafkan hambamu ini." Ana membalas perkataanmu dengan logat yang sama dengan kamu biasa kamu gunakan. Entah. Tapi ini terdengar seperti mengejekmu.

"Jangan ganggu aku lagi. Aku sedang mencari inspirasi di balik peliknya kehidupan ini." Kamu membalikkan badanmu kembali seperti semula.

"Mau ketemu banyak cewe gak kamu? Yuk ikutan." Lagi-lagi Ana menjambak rambutmu, tapi kali ini dengan tarikan. Jadi kamu seperti kambing salah gaul yang ditarik-tarik oleh penggembalanya.




"Aargh. Ana hentikan.."

Percuma Ana sama sekali tidak mendengar perkataanmu sama sekali, dia tetap menarikmu. Tapi entah kenapa kamu tidak bisa marah kepada Ana, seharusnya kamu yang lebih bisa menjawab. Kamu ditarik terus, padahal kamu sudah bilang berjanji menurut, tapi tetap saja Ana menarikmu seperti itu. Sampai di ujung parkiran lainnya, yang ada mobil Xenia di depanmu. "Nah, sekarang kamu masuk sanah! Tenang aja kita bakal ngeliat banyak cewe kok. Kamu pasti senang" Ana mendorongmu untuk masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil sudah ada 2 orang, Zaky dan Nissa. Zaky yang berada di bangku supir, sedangkan Nissa berada di tengah bersama kamu sekarang, "Ana kejam juga ya sama kamu." Nissa tertawa melihatmu yang disiksa seperti kambing yang durhaka. Kamu cuma tersenyum kecul menanggapi perkataan dari Nissa, yang ada kamu sok cool mengikat rambut gimbalmu dengan karet yang selalu kamu bawa setiap hari di kantong celana jeansmu yang robek di lutut dan pantat. Kenapa di pantat? Sepertinya kamu senang memamerkan kolormu yang berwarna norak itu. 

"Sudah kamu diam aja duduk di belakang Bar." Kata Zaky sambil membenarkan posisi kacamata hitamnya yang sepertinya emang bukan miliknya. Longgar gitu.

"Oke! Yuk Zak, Cus!" Ana masuk ke dalam mobil duduk disamping Zaky. Kamu yang bingung dan memang sedang tidak ada kerjaan yaa ngikut aja diculik. Apalagi diculik Ana dan Nissa, duo primadona kampus yang memang sangat sial bisa berteman baik denganmu dari jaman SMA.

***

"Tenang aja Barry, kita bakal ketempat yang banyak ceweknya. Siapa tahu ada yang nyantol sama kamu. Lagian daripada kamu gak jelas gitu mojok di parkiran. Masi mending mojok sama cewek, lah kamu mojok sama tokek." Ana mencoba menghiburmu dengan lawakan garingnya. Untung aja dia cantik, kalau gak mungkin sudah kamu balas dengan ketawa yang nyaring dan garing. Krenyes.

"Ah terserah pada kalian saja aku menurut. Yang terpenting aku bisa bertemu dengan banyak bidadari yang tak bersayap nanti." Kamu menjawab dengan lagi-lagi sok cool. 

"Haha. Kamu masih aja make logat itu Bar? Sumpah ngakak aku." Zaky tertawa mengejekmu, sampai ilernya tanpa sadar keluar dengan bebas dari ujung bibirnya.

Memang banyak yang tidak betah berada di dekatmu selama ini dikarenakan logatmu yang sangat aneh. Sok puitis? Tidak juga. Sok baku? Banyak yang salah juga. Kamu hanya kebanyakan nonton opera sabun yang banyak menggunakan logat seperti itu. Tapi kamu tidak perduli. Selama kamu nyaman, that's okay. Untung saja ada Nissa, Zaky, dan Ana yang betah akan logatmu. Kalau tidak, kehidupan kampusmu tidak akan senyaman ini. 

***

Akhirnya mobil berhenti di suatu dusun yang kamu tidak tahu dimana. Yang jelas banyak kicau burung, suara jangkrik, dan banyak suara ribut dari suatu rumah. Ana yang memakai kaos berwarna abu-abu, dengan rambut tergerai, dan sepatu sneakers turun dari mobil dan menuju rumah yang ribut itu. Biasa saja sih, tapi mau diapain dialah primadona kampus, mau pakai karung goni aja pasti bakal tetap cantik. Sungguh beruntung kamu bisa berteman baik dengan Ana. Sesaat Ana berbicara dengan bapak-bapak dari dalam rumah, Ana memberikan kode untuk kalian segera menuju rumah tersebut.

"Yuk Bar." Nissa menarik rambutmu, sama seperti Ana menarik rambutmu menggiring keluar mobil. 

"Nissa, jangan kamu ikuti perbuatan yang tercela ini." Kamu pasrah ditarik-tarik kayak kambing.

"Haha. Bar, bar. Gimana mau dapet cewek. Tampang preman gitu, tapi logat kayak gitu." Zaky juga turun dari mobil. Dengan kacamata hitamnya yang longgar itu. Yah sepertinya dia salah gaul gitu, dandanan gitu kok ke desa.

Kalian dipersilahkan masuk oleh yang empunya rumah. Ternyata cewek-cewek yang banyak itu adalah anak-anak kecil! Jahat sekali Ana membohongimu. Dan kamu tahu akhirnya ternyata kamu sedang berada di  salah satu panti asuhan di pinggiran kota tempat kamu belajar. Anak-anak yang emang didominasi oleh cewek ini, menyambut kalian dengan suka cita. Ada yang teriak-teriak, ada yang malu-malu sembunyi di balik tembok, bahkan ada yang langsung minta gendong ke Nissa dan Zaky. Mereka berdua terlihat seperti keluarga baru yang bahagia. Yah mudahan saja begitu, toh mereka sudah bersama dari jaman SMP. 

"Yuk adik-adik kita mulai ya acaranya." Ana menggiring anak-anak itu ke ruang tengah untuk memulai acara. 

"Mbak, itu om yang serem di belakang itu om Barry?" Tanya salah satu anak kecil ke Ana.

"Hihi iya Dintan. Dia yang namanya om Barry." Jawab Ana dengan penuh kasih sayang, "Yuk cepat, kan kita  mau nonton bareng."

Bagaimana mungkin anak kecil itu bisa tahu namamu? Ah. Ana sebenernya ini acara apaan sih? Kok semuanya serba tiba-tiba dan aneh ini. Ternyata setelah kamu mengikuti anak-anak menonton bareng film Kungfu Panda, kamu juga tahu ini adalah salah satu program yang biasa Ana lakukan sebulan sekali dari organisasinya. Nonbar bareng anak yatim, "Hey Ana ada apa gerangan kamu tiba-tiba mengajakku untuk ikut acara seperti ini?" 

"Udah deh, ikutin aja." Ana menjawab singkat sambil terkekeh

***

"Sudah puas adik-adik nontonnya?" Nissa segera maju ke depan anak-anak itu, "Bagus gak filmnya?"

"Baguuuuuuusss kaak!" 

"Nah, sekarang sebagai penutup. Ada pertunjukan sulap dari Kak Zaky! Kita kasih tepuk tangan!"

Tepuk tangan riuh. Kamu hanya diam. Makin tidak mengerti. Sebenernya kamu tidak menyukai untuk ikutan acara seperti ini. Tapi entah kenapa ada perasaan yang melegakan setelah melihat keceriaan anak-anak itu. Sesaat kemudian, Zaky muncul masi dengan kacamata hitamnya tapi kali ini dia memakai topi hitam panjang yang biasa dipakai para pesulap. Dengan tangan cekatan khas para pesulap, dia sekejap mengeluarkan kelinci dan muncul balon-balon dari balik topinya itu. Tepuk tangan kembali ramai.

Nah kali ini sepertinya Zaky akan mencoba sulap yang lebih ekstrim. Kain hitam besar dikeluarkan oleh Zaky dari kantong celananya. Kemudian dia sepertinya kesulitan menggunakan kain besar itu di depan, "Kita sepertinya butuh bantuan dari orang yang rambutnya gimbal. Ada yang tahu siapa yang punya rambut gimbal dan serem?" Lanjut Zaky.

"Ituuuuu Kakk. Kakk Barry!!!" Jawab mereka serentak.

What the? Kok mereka semua jadi tahu namamu. Ini semakin bau ikan. Something fishy. Kamu yang tidak pernah muncul di acara seperti ini kok mereka tahu namamu? Pasti gara-gara Ana. Dialah dalang semua ini, "Baiklah, tapi berapa rupiahkah yang mampu kamu gelontorkan untuk meminta bantuanku?" Tantang kamu ke Zaky.

"Lebih dari yang kamu tahu yang jelas Bar." Jawab Zaky singkat penuh misteri.

Akhirnya kamu berdiri di depan anak-anak tersebut, dan membantu membentangkan kain hitam besar yang diberikan oleh Zaky. Kamu menahan kain hitam itu di depan Zaky. Zaky mengisyaratkan bahwa kamu tidak boleh mengintip juga, dan juga apabila dalam hitungan ketiga baru kain itu boleh di buka. Ah sudahlah, toh kamu juga pengen acara ini cepat selesai, "Sudahlah, kamu jangan terlalu banyak basa-basi, selesaikan saja."

Anak-anak itu menghitung dengan nyaring. 1.. 2.. dan.. 3! Suara sudah tidak ada dari balik kain itu. Kamu penasaran dan akhirnya membuka kain yang sudah menutupi Zaky itu, setelah dipaksa juga oleh anak-anak itu. Dan.. Zaky menghilang!!! How come! Kamu yang juga terkaget sampai rambut gimbalmu tersingkap ke depan jidatmu, seakan tak percaya. Zaky? Sejak kapan dia jadi pesulap yang hebat seperti ini? Kamu buru-buru melihat ke belakang untuk menoleh ke Ana dan Nissa. Tapi. Hah? Mereka juga tidak ada. Kamu hanya sendiri di ruangan tengah itu, dan melihat anak-anak mulai menangis karena ketakutan Zaky sang pesulap hilang dari hadapan mereka. Maklum rata-rata mereka baru berumur 8-9 tahun. 

Kamu yang tidak pernah mengalami hal yang mengerikan ini, jadi kebingungan. Kemana mereka semua? Kok bisa menghilang semuanya. Luar biasa memang sulap yang dibawa Zaky. Selain dirinya, dia juga menghilangkan Ana dan Nissa! Kamu mulai sibuk menggendongi anak-anak itu satu-persatu, tapi ya mereka juga semakin takut karena digendong oleh om gimbal seram. Jadinya tidak berhenti mereka menangis.

Tapi.. Sepertinya keributan ini tidak terlalu lama. Gimbalmu yang lama-lama menjadi rontok gara-gara kelakuan Ana, Nissa, dan anak-anak itu yang sedang menangis itu. Kamu yang sedang sibuk memberhentikan tangis anak-anak, kaget ada suara petasan dari ruang tamu depan. Kamu akhirnya berjalan ke depan, ke ruang tamu.

"Selamat ulang tahun! Kami ucapkan! Selamat panjang umur!" Teriak anak-anak yang tadi menangis. Secepat kilat mereka langsung berubah drastis, dari yang menangis sekarang jadi senang tertawa. Wow mereka pintar akting ternyata!

Nissa, dan Zaky ada di ruang tamu depan, dan Ana membawakan kue itu.




"Selamat ulang tahun ya Barry." Senyum Ana selalu membuatku meleleh.

"Jadi, kalian membawaku untuk memberikan kejutan indah seperti ini? Ah kalian memang sahabat sejatiku." Kamu tidak kuat menahan air mata. Seumur-umur baru kali ini ulang tahunmu dirayakan. Siapa yang mau merayakan ulang tahun bersama orang aneh sepertimu?

"Sudah gak usah sok-sok pake acara nangis gitu." Nissa menambahkan, lalu dia mengambil satu potongan dan diberikan ke kamu.

"Kok kamu yang ngasi sih Nis? Seharusnya kamu ngasi ke aku" Omel Zaky sok cemburu.

Ana dan Nissa tertawa mendengar celotehan Zaky, tapi kamu hanya bisa garuk-garuk kepala gimbalmu. Kamu terlalu awkward untuk bisa menghadapi moment itu, "Seharusnya Ana yang memberikan potongan pertama, eh kebalik ya kamu yang ngasi ke Ana, Bar." Omongan Zaky menusukmu. Ya kan?

Ana cuma bisa tertawa lagi mendengar lawakan Zaky. Akhirnya kamu mulai mengambil potongan kue dari tangan Ana, dan berusaha memberikannya. Walopun kamu tahu kamu berat melakukannya, terlalu malu. 

Ceprot!

"Eits! Jangan senang dulu!" Potongan kue yang diberikan Nissa ke Zaky, mendarat di mukamu. 

"Jiguuuur!"

Ana dan Nissa beserta anak-anak kecil itu kembali tertawa melihat kamu mengejar-ngejar Zaky dengan rambut gimbal yang bertebangan itu. Ah sungguh sore yang berbeda.

Wednesday, June 5, 2013

Darmawisata Jembatan Gantung

“Kamu kenapa Ram?” Nesya memegang pundakku dari belakang. Aku kaget.

Sepertinya dia tahu daritadi aku berdiri, diam, dan keringat dingin membelakangi jembatan gantung itu. Tapi aku malu, aku malu banget kalau misalnya semua teman-teman tahu kalau aku tuh.. Uh, pokoknya gak mau! Aku gak mau naik jembatan itu.

“Ah. Gak. Gakpapa kok Nes. Aku baik-baik aja.” Aku gelagapan menjawab pertanyaan dari Nesya. Sambil menyeka keringat dari dahiku.

“Ayok anak-anak, satu-persatu ya lewat jembatannya. Pelan-pelan aja. Inget! Jangan liat ke bawah ya. Fokus aja jalan kedepan.” Pak Danu berkata pada kami yang sudah berkumpul di salah satu pos jembatan gantung yang tingginya kira-kira kayak tiang panjat pinang! Pokoknya aku melihat jembatan itu sangat kecil banget ketika aku berada di bawah. 

Kami satu rombongan yang berisi 20 anak SD berbaris menjadi satu. Kami bergantian menyebrangi jembatan. Kamu pasti tahu aku ada di urutan keberapa? Iya! Aku berada di tangga turun. Aku bermaksud kabur dari situasi mengerikan ini, “Hey, Rama! Kamu mau kemana? Kebelet ya?” Pak Danu menarik tas punggungku dari belakang.

“Eng, nganu Pak. Iya Pak. Eh, enggak kok Pak. Aku cuma main naik-turun tangga Pak.” Aku berkelit untuk kesekian kalinya.

“Hati-hati Rama, nanti kamu bisa jatuh kalau tidak hati-hati.”

“Iya, Pak.” Aku berbalik ke barisan, di urutan paling belakang. Aku menarik napas panjang. Lagi-lagi keringat banyak muncul dari dahiku. 

Di depanku ada Nesya yang entah kenapa hari ini cantik sekali. Tas pink, dengan rambut yang dikepang dua dan bandana pink. Entah kenapa anak cewek itu suka sekali dengan warna pink, tapi anehnya anak cowok sepertiku suka banget sama mereka yang berdandan pink. Eh bukan berati aku suka pake pakaian warna pink! Gak! Sama sekali enggak! Nesya sedang asik ngobrol dengan Anita yang berada di depannya. Mereka sepertinya menikmati sekali perjalanan kali ini.

Seandainya. Aku gak mendengarkan Doni cerita kemaren ketika istirahat, pasti aku akan lebih menikmati Darmawisata ini. Sebenernya buat apa sih anak kelas 6 SD ada darmawisata mengerikan ini? Seharusnya kita belajar buat ujian nasional. Sialan kamu Doni. Ah tapi memang menyeramkan sih. Argh! 


…


“Kalian tahu gak?” Doni memulai cerita dengan mulut yang penuh dengan kerupuk udang.

“Kenapa Don? Ada game baru lagi?” Satria mendengarkan dengan antusias. Bahkan terlalu antusias. Sampai bakso yang mau aku makan jatuh nggelundung terkena sikutnya ke parit dekat kami makan. Aku dongkol setengah mati. Aku menggembungkan pipiku tanda protesku ke Satria, “Eh, sori-sori Ram. Gak sengaja hehe.”

“Tapi agak serem ini, nanti kalian pada takut ikut darmawisata besok.” Doni menambahkan. Kali ini Doni jorok. Masa makan kerupuk udang aja sampe tumpah-tumpah, muncrat lagi ke mukaku. 

“Hah? Kok bisa? Tenang aja Don. Aku ini pemberani kok! Tapi gak tau kalau si Rama.” Satria menoleh ke arahku yang lagi bersihin muka dari muncratan kerupuk Doni.

“Aku berani juga kok! Aku juga berani sama kodok!”

“Hahaha, oke-oke. Tapi diem-diem aja ya. Soalnya kalau ini banyak yang tahu nanti ada yang marah.” Doni membuat kami terdiam serius mendengarkannya.

“Si, si, siapa yang marah Don?” Tanya Satria penasaran tapi takut.

“Hantu anjing jembatan.” Doni menjawab mantap, “Cerita ini aku denger dari kakakku yang udah pernah ngalamin ini. Jadi di Bukit Suharto, tempat darmawisata sekolah kita besok ada jembatan gantung yang tinggi banget. Nah, katanya di sana sering muncul penampakan hantu anjing. Makanya namanya Hantu anjing jembatan.”

Aku dan Satria terdiam, terpaku. Tapi lebih tepatnya ketakutan. Aku udah mulai kebelet, tapi kalau aku kebelakang sekarang, nanti aku diejek sama Doni dan Satria. Aku harus kuat!

“Jadi dulu tuh, ada satu keluarga, ayah, ibu, dan dua anak yang lagi bertamasya, mereka juga membawa anjing peliharaannya buat ikut. Nah, ketika itu mereka naik jembatan gantung di sana, tapi anjingnya ditinggal di mobil. Kan jembatan gantung itu gak boleh dinaikin sekaligus. Jadi harus satu-satu.” Lanjut Doni, “Sayangnya kedua anak mereka tidak mengikuti peraturan yang ada. Jadi kedua anak itu berlari-lari di jembatan berdua, bahkan berloncat-loncat.

“Terus mereka berdua jatuh?” Tanya Satria gak sabaran.

“Gak, lebih parah malah! Jembatannya putus! Tapi beruntung putusnya cuma salah satu pegangan di jembatan. Nah, orang tua mereka mencoba menolong kedua anak itu. Ayahnya merayap di jembatan, dan Ibunya berteriak di dekat jembatan meminta pertolongan. Sepertinya mereka lagi gak beruntung. Ketika Ayahnya sudah sampai di tengah, eh talinya malah putus semua. Dan talinya yang di dekat Ibunya tertarik juga, sehingga membuat kaki Ibu juga terikut tarikan talinya ke bawah.” Doni menjelaskan dengan masang topeng singa. Niatnya sih mau nakutin kita, tapi malah pengen mukul. 

“Akhirnya sekeluarga jatuh dari jembatan gantung dan meninggal. Lalu anjing yang ditinggal di mobil itu akhirnya dikeluarkan oleh penduduk setempat. Nah karena anjing itu tidak tahu kalau keluarga yang memelihara dia udah gak ada. Akhirnya anjing itu selama bertahun-tahun menunggui jembatan itu sampai selesai diperbaiki. Tapi anehnya setelah jembatan selesai diperbaiki, anjing itu hilang! Nah kabarnya sih anjing itu jadi hantu penunggu jembatan itu.”

Aku menelan ludah. Satria juga menelan ludah. Kita sama-sama menelan ludah. Ah aku juga ga sadar baksoku yang tadi kusisain sudah habis dimakan oleh Doni. Sialan!

“Untung aku gak jadi ikut darmawisata besok hahaha. Jadi kalau kamu naik jembatan itu terus kamu ngeliat ke arah bawah. Maka hantu anjing berwarna hitam dan sebesar harimau itu akan muncul menerkammu dari bawah sampai kamu terjatuh ke bawah. Jadi pas kamu jalan di jembatan, jangan sekali-sekali melihat ke bawah.” Doni terlihat senang melihat kami berdua pucat pasi. 


…


Aku masih berusaha menghilangkan rasa takutku dengan terus melihat kea rah Nesya. Kupikir kalau aku melihat orang yang aku.. Ah sudahlah, aku bisa lebih tenang. Tapi ketika mendengar perintah Pak Danu kalau ketika menyebrangi jembatan kita jangan sekali-sekali melihat ke bawah, aku semakin yakin cerita Doni itu benar. Astaga, kenapa mama memaksaku ikut darmawisata ini! Kenapa ketika mama memberitahu kalau Nesya ikut darmawisata aku seperti lupa cerita hantu Doni. Tidak! Aku menyesal!




Perlahan tapi pasti giliranku semakin dekat, aku juga semakin takut soalnya Satria yang juga mengetahui cerita ini tidak ikut dalam acara darmawisata ini dikarenakan dia sakit. Tapi aku tahu dia hanya membohongi orang tuanya kalau dia sakit. Sebenarnya dia hanya takut! Kita sama-sama mengompol ketika mendengar cerita Doni sampai selesai. Dua giliran lagi, adalah giliranku. Tanganku semakin dingin.


…


Rasanya. Aku ingin memberitahukan Nesya akan cerita ini, aku gak pengen dia dijahati oleh hantu anjing jembatan itu! Tapi aku terlambat Nesya sudah sampai di tengah. Bahkan dia melambaikan tangannya kepadaku. Aku hanya bisa membalas lambaian tangannya dengan senyum yang pahit. Bajuku basah karena keringatku yang terus mengucur, “Sekarang giliranmu Rama.” Pak Danu menyuruhku untuk menyebrangi jembatan mengerikan ini.

“Pak, saya mau pipis pak.” Aku mencari alasan.

“Ah malah bagus! Di sebrang sana ada wc kok. Kamu nyebrang dulu, jadi kamu bisa langsung pipis.” Jawab Pak Danu santai.

Aku hanya bisa menepok jidat. Alasanku gagal meyakinkan Pak Danu kalau aku tidak ingin menyebrangi jembatan ini. Aku semakin deg-degan, dan teman-temanku yang disebrang sana mulai meneriaku dan memanggilku, bahkan ada yang mengejekku karena aku tidak berani menyebrangi jembatan ini. Ah kalian tahu apa sih? Untung aja kalian gak dimakan hantu anjing itu! Akhirnya Nesya sudah sampai di sebrang dan memanggilku. Aku semakin ciut. Nesya dan hantu anjing jembatan adalah hal yang berbeda!

Aku yang dari tadi keringat dingin, menahan pipis, dan juga ketakutan akhirnya tidak kuat menahan itu semua. Tekanannya terlalu mengerikan. Aura jembatan seakan-akan berubah gelap! Dalam pikiranku jembatan itu bergoyang dahsyat, seperti jembatan itu bisa putus kapan saja. Dan jelas di bawah jembatan itu berubah gelap, sepertinya anjing itu akan keluar ketika aku mulai melangkah. 

Aku akhirnya menitikkan air mata. Aku sudah gak kuat menahan kengerian ini semua, “Loh, Rama kamu kenapa menangis? Kamu takut ketinggian?” Pak Danu buru-buru mengeluarkan sapu tangan untukku.

Aku semakin menjadi-jadi menangisnya. Aku terlalu takut, aku gak peduli lagi celanaku kena ngompol. Yang jelas aku gak mau ngelewatin jembatan ini. Pak Danu sibuk menepuk kepalaku, dan berusaha meyakinkanku untuk bisa berani menyebrangi jembatan gantung ini, bahkan aku diiming-imingi coklat kalau aku sampai di sana. Tapi Pak Danu gak tahu permasalahan hantu anjing itu. Semua berpikir aku takut ketinggian, padahal gak sama sekali! Aku gak cerita tentang hantu ini soalnya biar yang lain gak kena kutukan hantu anjing jembatan itu. Aku gak tahu lagi selain harus menangis.

Nesya yang melihatku dari kejauhan tiba-tiba berbalik ke arahku. Sedangkan teman-teman yang lain ada yang mengejekku dan tertawa sekencang-kencangnya. Huh mereka semua gak mengerti! Nesya sedikit berlari ke arahku. Ah Nesya aku takut.

“Rama, kamu kenapa?” Nesya bertanya padaku yang sedang menutupi mukaku dengan lututku, “Ayok, aku temenin nyebrangnya.” 

Nesya memberikan tangannya untuk kugenggam. Aku yang sedang terisak itu sekejap berhenti menangis. Sepertinya Nesya dengan barang-barang pinknya seperti bidadari yang turun untuk menolongku dari kengerian hantu anjing jembatan itu, “Tuh Rama, nyebrangnya ditemenin sama Nesya.” Pak Danu tersenyum melihat kami berdua. 

Aku yang mengisap ingus karena abis nangis, akhirnya menyambut tangan Nesya. Aku menggenggam erat tangan Nesya. Rasanya tenang banget, aku merasakan seperti cerita hantu anjing jembatan itu hanya bohong belaka. Akhirnya aku berdiri, dan ternyata celanaku ikut basah karena pipisku yang gak sengaja keluar ketika aku menangis ketakutan itu. Nesya yang melihat celanaku yang basah agak tertawa sedikit. Ah aku jadi malu, tapi aku senang, akhirnya aku tersenyum juga.

Akhirnya kita berdua perlahan menyebrangi jembatan itu. Aneh ya? Kok aku gak takut lagi ya? “Kamu jangan lihat kebawah ya.” Nesya mengingatkanku. Ah Nesya kamu jahat aku jadi teringat lagi, senyumku yang sebelumnya ada jadi hilang.




Ajaib! Aku akhirnya bisa melewati jembatan itu dengan selamat!

Teman-temanku semua bertepuk tangan ketika aku sudah sampai di pos selanjutnya. Tapi mereka sekaligus tertawa ketika melihat celanaku yang basah gara-gara ngompol. Tapi yasudahlah malu sedikit yang jelas hantu anjing itu tidak muncul ketika aku menyebrangi jembatan itu.


…


“HAHAHAHA Lucu sekali kamu Rama!” Pak Danu menertawaiku ketika aku menceritakan kenapa aku merasa takut ketika berada di atas. Iya aku menceritakannya, soalnya kita sudah mau pulang dari darmawisata dan kita ada di atas tanah, gak di atas jembatan itu lagi. Nesya yang ikut berbincang dengan Pak Danu juga ikut tertawa mendengar ceritaku. 

“Bapak juga pernah dengar cerita itu, tapi itu sudah lama sekali ketika bapak kecil. Bapak tidak mengerti kenapa di jaman kamu masih ada cerita seperti itu. Hahahaha Rama kamu lucu sekali.” Pak Danu bukannya menghiburku malah menertawaiku, “Tenang saja Rama itu semua bohong, cerita itu ada karena untuk membuat anak-anak SD seperti kalian tidak melihat bawah ketika menyebrangi jembatan. Karena kebanyakan anak-anak takut akan ketinggian, dengan melihat ke bawah mereka akan jadi takut menyebrangi jembatan gantung yang tinggi itu.”

“Ja, jadi Doni bohong?” Aku gak percaya apa yang kudengar. 

“Doni hanya beruntung bisa tahu cerita itu. Tapi bapak yakin dia akan menyesal tidak mengikuti darmawisata ini ketika dia dewasa. Setiap darmawisata adalah hal yang sangat menyenangkan dan tak terlupakan. Seperti hari ini, kamu dan Nesya. Benar kan?” Lanjut Pak Danu

Aku hanya bisa terdiam malu, tapi lega. Setidaknya yang aku takutkan ternyata tidak benar. Dan semua itu hanya bohong belaka. Untung saja aku membawa celana ganti jadi aku gak harus terus-terusan diketawain oleh yang lain. Tapi yang bisa kuambil dari sini, aku semakin dekat dengan Nesya. Dialah bidadari penyelamatku. Dengan pakaian serba pink itu. Dia satu-satunya cewek yang sangat pemberani di sekolah ini. Itulah kenapa aku suka padanya. Aku yang telah mendapatkan coklat dari Pak Danu sebagai hadiah menyebrangi jembatan, akhirnya aku memberikan ke Nesya, “Makasih ya Nesya. Kamu hebat!” Nesya hanya tersenyum manis menerima coklatku.

Doni, Satria, eh Satria juga korban ding. Awas ya kamu Doni!





Tuesday, June 4, 2013

Perang Malam Minggu (Part 2)

"Ka Boni.."

"Kenape Jak? Elu jangan sok ngalah gitu deh kalo main sama gue, gue gak suka elo gak serius lawan gue! Camkan itu!" Bentak Boni sok galak, soalnya dia punya brewok. Jadi harus galak!

"Bukan itu kak.. Dih galak amat sih. Ini nih, kok ada yang geli-geli ya di selangkangan?" Jawab Jaka melas tapi keenakan.

"Apaan sih! Jorok amat. Hih! Noh elo lagi gue kasi jurus besar." Boni gak urus dengan keadaan Jaka yang makin lama makin kegelian.

"Buset kak, serius ini... KAK ADA ULAR LEWAT! ARGH! ULAAAAAAAR" Jaka loncat girang terus roll belakang terus kejeduk terus pingsan. Kawatir ularnya bakal masuk ke selangkangan dan pahanya lagi akhirnya dia bangun lagi. Terus naik lemari.

Ular berukuran sekitar 30 cm berwarna hitam itu tertawa ngikik melihat Jaka yang responnya terlalu lebay. Karena dia senang gangguin Jaka, dia juga menuju Boni yang masih gak sadar teriakan Jaka. Boni terlalu fokus, soalnya dia lagi menang lawan Jaka. "ULARNYA JALAN KE PANTATMU KAK!" Teriak Jaka gak santai dari atas lemari.

Jaka yang masih bingung di atas lemari mencari akal untuk menolong kakaknya. Ceritanya ini lagi slow motion ya, jadi ular jalan ke pantatnya Boni itu juga lambat. Jaka melihat-lihat ke sekelilingnya dari atas lemari, dia melihat sesuatu yang oke. Karena hobi Jaka main game action, jadi ketika dia melihat barang di bawah ini, apa yang ada dipikirannya?




Iya. Jaka tanpa pikir panjang langsung lompat ke lampu gantung dirumahnya yang jaraknya ga begitu jauh dari depan lemarinya demi kakaknya yang tercinta terhindar dari serangan ular itu. Hap! Tangannya sudah bergantung di lampu gantung itu. Jaka kemudian mengayunkan badannya ke arah depan kakaknya yang lagi duduk fokus main game, sedangkan ular tersebut sudah berjarak 24,5 cm dari pantat kakaknya. 

Syuuu..

Jaka melompati sekaligus menjitak kepala Boni dari atas, terus mendarat tepat di depan muka Boni. "Argh! Jak! APAAN SIH LO! LO GA SUKA GUE MENA..." Teriak Boni kesakitan abis kepalanya aduhai dijitak Jaka. Belum selesai Boni ngomong, dengan sigap Jaka menutup mulutnya terus ngebanting Boni. Ah lupa, ternyata Jaka juga ahli judo. Sama seperti halnya Boni. Sudahlah. Jaka ngebanting Boni dengan alasan agar Boni yang loadingnya lambat ini bisa lekas sadar kalo dia itu sedang terancam. Ah luar biasa memang kedua bersaudara ini, badan masi kecil tapi serem cuy!

"Tuh kak! Liat! Ada ular! Buset gue udah teriak mampus masih aja ga sadar." Kata Jaka dongkol, kata-katanya dia gak pernah didengar Boni dengan baik.

"Ergh.." Boni cuma bisa mengeluh kesakitan habis dibanting Jaka. "Ah elu sama ular aja takut"

"Heh?" Jaka kaget kakaknya yang melihara brewok -cuma buat nutupin fakta kalo dia tuh takut sama kecoak terbang- itu ternyata santai aja ngeliat ular yang serem gitu. Wow. Jaka tepuk tangan dalam hati. 

Dengan sigap Boni membuat posisi kuda-kuda untuk menangkap ular. Jaka diam termangu melihat kakaknya beraksi. Dia terkagum-kagum ngeliat kakaknya yang masih SMP kelas 2 itu berani sama ular. Luar biasa! Tapi ternyata lagi-lagi Boni tuh cuma sok-sokan aja. Dia akhirnya keringat dingin sambil terkentut-kentut ketika ular itu mulai mendatangi dia. Lama. Boni diam saja gak bergerak padahal ular semakin deket, akhirnya Jaka jengkel, ditendanglah pantat Boni sehingga Boni terguling menuju ular tersebut.

Karena Boni ahli judo, yah walaupun agak gak nyambung sama skillnya, tapi dengan cekatan ketika dia terguling dia bisa mendapatkan kepala ular di genggamannnya. "YEAAAHHH!!!" Teriak Boni dengan penuh kemenangan. Jaka juga ikut teriak kenceng kayak abis ngeliat Cristiano Ronaldo nyetak gol sambil nungging. Tapi euforia kemenangan itu gak berjalan lama. Ular yang pintar itu walaupun kepalanya digenggam oleh Boni, tapi badannya dengan sigap melilitkannya ke lengan Boni. 

"Argh" Boni teriak kemudian melempar tuh ular ke arah sofa yang disampingnya. Boni ternyata gak tahan geli menghadapi ular yang menggelayuti lengannya. Kemudian dia lari kegelian sambil goyangin pantatnya ke arah Jaka.

"Brewok aja sangar, ujung-ujungnya gak tahan geli juga." Cemooh Jaka ke Boni. 

"Men, gelian sama brewok gak ada hubungannya. Itu dua hal yang berbeda banget. Gelian gue tuh tandanya istri gue cantik nanti. Sirik aja lu!" Boni ngelesnya jago banget. Entah, harus kasihan atau bagaimana. 

Kedua bersaudara kemudian mencari-cari kemana perginya si ular itu. Gak mungkin kan mereka bisa tidur nyenyak kalau di rumah mereka berkeliaran ular yang sangat jahat. Kalo pas kita tidur pantat kita digigit gimana? Kan ntar jadi zombie. Grrr. Ntar gak ada yang suka sama Boni dan Jaka kalo muka mereka kayak zombie. Hiii.

Tapi ternyata aksi melemparnya ular itu ke sofa adalah salah besar. Ular itu terlalu pintar untuk dilempar ke sofa. Dia malah senang bisa tidur di sofa empuk, eh bukan ding dia bisa sembunyi di bawah sofa yang ternyata sofa mereka menyimpan rahasia yang sangat mengerikan. Apakah itu? Kita tunggu setelah iklan yang mau lewat ini.

...

Boni dan Jaka masih sibuk mencari ular yang nyungsep di sofa dari jarak jauh. Mereka terlalu takut geli buat deket-deket sama ular. Asal kalian tahu saja, kulit ular itu agak licin dan menggelikan. Pokoknya brrrr deh. Sesaat ketika mereka sedang mencari, terdengar suara yang agak aneh dan agak berisik. Grusak-grusuk gitu. Suara itu berasal dari bawah sofa mereka. Semakin lama semakin nyaring. Kemudian..

Wuuungg! Wuuung! Wuuuung!

Kecoak terbang! Ratusan kecoak terbang keluar dari bawah sofa yang dimasuki ular tadi. Eh gak semua terbang ding, ada yang jalan juga merayap keluar. TAPI TETEP AJA ITU KECOAK!!!!! Jadi ternyata di bawah sofa itu ada sarang kecoak yang sangat besar. Markas besar kecoak emang baru pindah sehari dari kandang kambing di belakang rumah karena kandang kambing terlalu bau untuk para kecoak itu. Padahal mereka baru saja beres-beres pindahan eh ada ular datang, mereka ngibrit deh keluar sofa!




Boni dan Jaka yang awalnya lagi asik-asik ngeliatin sofa kaget setengah mati ngeliat rumahnya diserang banyak kecoak dan satu ular. Mereka sontak lari sambil sesak napas soalnya masih shock seakan tak percaya melihat kejadian luar biasa yang ada di rumah mereka. Malam minggu menyeramkan. 

Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam kamar mereka sambil ngos-ngosan. "Kak, gimana ini? Rumah kita sedang diserang." Jaka yang kehabisan napas mengajak Boni mencari strategi bagaimana menghadapi serangan maut malam minggu ini. Saking paniknya Jaka menangis sampai keluar ingus. Dia masih shock. Maklum dia masih kelas 5 SD. 

"Bagaimana pun juga kita harus menumpas mereka semua. Tidak ada cara lain." Jawab Boni dengan penuh wibawa. Tapi kalau Boni yang ngomong gitu tetep aja jadinya lucu. Mukanya gak cocok buat ngomong begituan. Kasian sih, tapi mau gimana lagi?

Boni membuka pintu kamarnya sedikit kemudian mengintip apa yang terjadi di ruang tengah rumahnya. Ternyata para kecoak masih asik terbang sana-sini, ada yang masuk ke lemari buku, ada yang masuk ke wc, ada yang masuk kamar. Iya kamar. Salah satu kecoak berhasil menyusup ke kamar tempat Boni dan Jaka bersembunyi! "WOOY!" Teriak Boni kemudian langsung menutup pintu kamarnya dengan rapat. Satu kecoak masuk ke kamarnya!

Jaka yang memang takut sama kecoak ini langsung naik ke atas kasur kemudian nutupin badannya pake selimut. Boni yang merasa sangar tapi ya juga takut, buktinya dia mau ngambil koran saja sambil gemeteran. Iya Boni mengambil koran yang ada di atas meja kamarnya, kemudian menggulungnya. Dan.. PLAK! Kecoak itu dipukul begitu saja. Gepeng? Iya dong gepeng masa pecah. Kayak di kartun-kartun gitu kalo ada yang dipukul koran ya jadi gepeng. 

"Heh! Kecoak! Siapa bosmu?" Boni meneriaki kecoak yang sudah gepeng itu. Ceritanya sih sok menginterogasi. Tapi kecoak bisa jawab apa?

"Sudah kak, kasihan... Kecoaknya kan udah mati." Jaka memelas pada kakaknya. Yah agak fail sih tapi gapapa deh biar seru. Jaka masih berselimut di atas kasur. Sepertinya dia tidak ada niat untuk membantu kakaknya yang sebenernya juga takut ngehadapin para kecoak dan ular itu.

"Sial! Pasti ular itu adalah bosnya! Dia dendam padaku ketika aku mencet kepalanya terlalu kuat! Sialaaan!!" Umpat Boni sambil membanting gulungan koran ke bawah dari tangannya.

"KAK! Pipo! Pipo ada di ruang tamu!" Teriak Jaka tiba-tiba.

"Pipo? Astaga! Iya!"

Boni kembali mengintip dari pintu kamarnya yang dibuka sedikit, kali ini dia berhati-hati agar kecoak tidak masuk ke kamarnya lagi. Iya Boni melihat Pipo malah loncat kegirangan ngeliat banyak kecoak yang terbang dan merayap ke arahnya. Iya Pipo adalah kucing yang mereka pelihara. Maklum kucing mah kalo ngeliat yang begituan bukannya panik malah seneng.

"Gawat Jak, Pipo diserang!"

Jaka langsung mendekati Boni dan juga mengintip dari pintu untuk memastikan keadaan Pipo diluar. Mereka kemudian saling bingung. Kita harus menyelamatkan Pipo segera. Mereka berdua memikirkan strategi untuk bisa menyelematkan Pipo dari serangan brutal malam minggu. Sungguh malam minggu yang menyeramkan.

Bersambung..