Tuesday, June 25, 2013

Memancing (Part Finale)

"Gimana rasanya bisa dapet ikan, Brian?" Ujar Om Jono kepadaku. Om Jono mendekatiku setelah aku berhasil melepaskan kail.

"Super banget, Om! Ah, aku merasa keren banget, Om. Pokoknya mantap. Aku sendiri gak nyangka bisa menangkap ikan sebesar ini. Ini pertama, dan langsung ikan besar! Wow!" 

"Sepertinya kamu senang sekali ya, Brian. Tapi itu tangkapan yang hebat!" Om Jono mengacungkan jempol kepadaku. "Sini, kamu pose, mau Om foto dulu."

Aku langsung berpose dengan ikan yang aku tangkap, aku tidak tahu apa nama ikan ini, yang jelas panjang ikan ini sekitar 30 cm. Aku memegang ikan ini dengan kedua tanganku. Kepala ikan di tangan kanan, buntut ikan di tangan kiri. Aku pun tersenyum sampai blitz kamera mengenaiku.

"Om, ini nama ikannya apa?"

"Oh, itu namanya ikan kembung."

"Oh." Aku terkejut, setahuku ikan kembung itu yang bisa membulat kalau ada musuh. Itu setahuku dari film kartun yang aku tonton selama ini. Tapi setelah kuingat-ingat ternyata itu namanya ikan gembung. Dan ini ikan kembung. Sungguh berbeda.

Aku lanjut untuk menyiapkan pancing rentakku dengan umpan-umpan lagi. Aku berharap, sore ini menjadi sore milikku. Aku akan menjadi juragan ikan kembung yang kaya. Aku sangat bersemangat, sampai-sampai aku lupa menaruh ikan kembungku yang baru kudapat ke dalam kotak penyimpanan ikan.

Tapi sampai pukul setengah 5 aku tidak mendapatkan apapun. Aku begitu terpukul. Ternyata aku mendapatkan ikan tersebut, adalah suatu kebetulan. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti memancing, aku pun berjalan-jalan di kapal. Sepertinya aku sudah terbiasa dengan keadaan kapal. Aku mendatangi Ayah.

"Kamu lagi bosan, Nak?" Ayah bertanya padaku.

"Gak begitu, Yah. Tapi ada benarnya. Aku capek duduk terus nungguin ikan. Tapi gak ada satu pun ikan yang datang lagi padaku."

"Kamu harus banyak belajar. Lagipula ini kali pertama kalimu, bukan?"

"Iya." Aku menunduk lesu. Ternyata memancing itu memang tidak mudah.

"Kamu mau sesuatu yang seru gak?" Ayah dengan wajahnya yang tenang itu, sepertinya akan menawarkan sesuatu yang hebat lainnya.

"Apa yah?" Aku penasaran.

"Sebentar, Ayah mau ngambil sesuatu dulu." Ayah kemudian menaruh pancing rentaknya. Dan Ayah masuk ke dalam rumah kecil, tempat dimana tas kami dikumpulkan. Begitu keluar, Ayah membawa sesuatu di kantongnya. Kantongnya terlihat besar. Ayah menunjuk ke pinggiran kapal, "Coba kamu berdiri di situ." 

"Emang kenapa, Yah?"

"Lakukan saja. Begitu sampai di sana, fokus lihat batas antara laut dan langit." Ayah tersenyum.

Aku melakukan yang diperintahkan Ayah. Aku berdiri di pinggiran kapal, tentunya aku sambil berpegangan di pinggiran kapal tersebut. Aku melihat batas laut dan langit itu. Ini sungguh pemandangan yang luar biasa. Tidak ada daratan diantara laut dan langit. Laut dan langit bertemu membentuk garis lurus yang tidak ada batasnya. Aku melihat ujung paling kiri, ke ujung paling kanan, semuanya sama. Sebuah garis langit yang luar biasa. Cahaya sore berwarna oranye menghiasi garis langit ini. Aku juga melihat ada ikan yang berloncatan, jauh dari kapal ini. Mereka seperti anak-anak yang sedang bermain sore. Sama seperti manusia.




"Itu dinamakan garis cakrawala. Batas laut dengan langit. Kamu tidak akan bisa menemukan ini dari kota. Ini limited edition. Kamu termasuk anak jaman sekarang yang masih beruntung bisa melihat ini." Ayah menjelaskanku dari belakang. Tapi aku tetap fokus. Menikmati keindahan yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Jebyuur..

Aku kaget, aku tiba-tiba terlempar ke laut. Apakah gara-gara kapal tiba-tiba terkena ombak besar, sehingga aku bisa tercebur ke laut? Ah, ini semua gara-gara aku terlalu terpana dengan suasana ini. Aku tidak berpegangan kuat. Kini, aku panik. Aku berusaha tetap melayang, air laut sungguh sangat asin. Mataku sakit terkena air laut ini. Aku bisa berenang memang, tapi ini bukan kolam renang. Ini laut! Tapi, aku ingat perkataan guru renangku, pertama yang kamu lakukan ketika berada di air adalah tetap tenang. Aku berusaha tenang dengan menarik napas, kemudian menahannya. Sambil aku mencari posisi yang tenang. Agar aku tetap melayang.

"Ayaaaah. Aku tenggelam." Aku berteriak, dan melihat ke arah kapal yang masih tetap tegap berdiri di atas air. Tapi apa yang kudapat. Orang-orang dewasa tersebut, tertawa melihatku.

"Tenanglah, Nak. Jangan panik. Kamu kan sudah bisa berenang, bukan lelaki namanya kalo kamu panik begitu." Ayahlah yang telah mendorongku ke laut ini. Kenapa?

"Tapi kan, gak perlu ngedorong gitu dong." Aku memprotes Ayahku, sambil tetap menggoyang-goyangkan kaki dan tanganku untuk tetap melayang. Air laut yang asin ini membuatku sedikit panik. Tapi entah kenapa memang aku lebih mudah melayang di air laut, dibanding di kolam renang.

"Ini gunakan." Ayah melempar sesuatu ke arahku, yang diambil dari kantongnya. "Cepat diambil, jangan sampai tenggelam.

Aku kemudian berenang mendekati tempat terjatuhnya barang itu. Untung saja aku cepat dalam berenang, jadi barang itu tidak sempat tenggelam. Ternyata, barang yang dilempar itu adalah kacamata renang. Ah, terima kasih Ayah. Tapi sepertinya mendorongku ke laut adalah ide yang sudah dipikirkan oleh Ayah. Seperti halnya Ayah mempersiapkan kacamata renang ini.

"Coba kamu pakai, lalu lihatlah ke dalam lautan." Perintah Ayah.

Aku mengikuti perintah Ayah, memakai kacamata renang tersebut. Ah, aku memang bisa tenang kalau ada kacamata renang ini. Ntah, dengan bisa melihat apa yang ada di dalam air, aku bisa berenang dengan tenang. Ah, aku bisa melihat isi dalam laut! Walaupun terlihat makin menyeramkan, sepertinya aku harus menarik kata-kataku kalau aku bisa tenang kalau bisa lihat apa yang di dalam air. Memang menyeramkan, tapi ini sungguh luar biasa!

Aku melihat ikan-ikan kecil di dalam laut, mereka bergerak di air dengan bebas. Menurutku mereka seperti menari, seperti anak-anak kecil sedang berada di kelas balet. Aku juga melihat langit, tapi dari dalam air laut, ah, sungguh luar biasa. Langit oranye, cenderung gelap sedikit membias di permukaan air, ini perpaduan yang luar biasa! Aku melihat ada beberapa ikan yang aku tidak tahu, tapi entah lah mereka tetap luar biasa berada di alamnya.


Hanya satu, sisi menyeramkan dari air laut ini. Air laut terlalu dalam, dan gelap. Aku hanya bisa menikmati bagian permukaan sedikit kebawah, untuk yang lebih dalam? Tidak, semua serba gelap. Apalagi di langit sore seperti ini. Ini yang membuatku takut, setelah melihat pemandangan yang luar biasa ini. Aku kembali ke permukaan.

"Bagaimana?" Ayahku berbicara padaku dari atas kapal.

"Laut dalam itu serem ya, Yah? Tapi di bagian atas itu menakjubkan. Cahaya matahari menambah keindahan dalam laut."

"Bayangkan nak, kamu berada di laut dalam seperti ini, dengan keadaan terang benderang. Seperti di akuarium yang super besar. Kamu akan merasakan yang lebih luar biasa. Memang itu hanya khayalan, tapi dengan khayalan seperti itu, kamu bisa lebih berteman dengan laut ini." Ayah lagi-lagi tersenyum setiap menjelaskan sesuatu kepadaku.

Aku mengikuti perintah ayah. Kali ini, aku pasrahkan badanku melayang di atas permukaan, dengan wajahku menghadap bawah lautan. Gelap. Tidak kelihatan apa-apa. Tapi aku mulai berkhayal, andaikan cahaya matahari bisa masuk, dan menerangi semua yang ada di sini. Perlahan laut bawah yang gelap itu menjadi terang, sekarang aku bisa melihat gunung laut, palung, batu-batuan laut, bermacam-macam ikan, cumi-cumi,  penyu laut, segerombolan ubur-ubur, dan bahkan paus biru yang besar aku bisa melihat dengan jelas. Ini luar biasa. Tapi ada juga yang menyeramkan, seperti ada hiu yang sedang mengejar mangsa, paus pembunuh yang sedang mencari mangsa.

Aku kembali menghirup udara, kembali ke permukaan. Sepertinya Ayah sudah siap untuk mengangkatku kembali ke kapal.

"Sudah?"

"Sudah, Yah." Aku menjawab dengan senyuman terbaikku. Ayah terlihat bahagia, sepertinya melihat anaknya bisa menikmati perjalanan yang belum pernah anaknya temui. Ayah menurunkan tangga tali, aku menaiki tangga tersebut untuk bisa naik kembali ke kapal. Paman Rano memberikan handuk kepadaku, bajuku pun sudah persiapkan Ayah. Aku berganti pakaian di dalam rumah kecil tersebut.

Ini benar-benar pelajaran yang luar biasa. Aku tidak akan melupakan ini. Ini keren! Aku tersenyum sendiri, ini memang luar biasa.

"Brian!" Pakdhe Nono memanggilku. Aku lari keluar dari rumah kecil itu. Mendatangi buritan kapal, semua orang berkumpul di sini.

"Ada apa, Pakdhe?"

"Kita dapat ikan pari!"




Ikan pari? Bukan kah itu ikan yang luar biasa besar? Yang punya sayap, dan jarum beracun di badannya? Wow, ini keren dan mengerikan! Aku langsung menuju pinggiran kapal untuk bisa melihat langsung prosesi penangkapan ikan ini. Ternyata ikan pari memakan umpan yang disediakan Om Jono. Sekarang Ayah, Paman Rano, dan Pakdhe Nono  beserta nelayan-nelayan yang ada membantu proses menangkap ikan pari ini.

Semua orang dewasa, bergotong royong untuk menangkap ikan ini. Aku tidak mengerti, yang aku tahu ikan pari ini sangat berbahaya. Racunnya mematikan! Tapi entah kenapa orang-orang dewasa ini tidak terlihat takut, bahkan bersemangat. Ah, aku ingat, ini adalah sensasi memancing. Semakin yang kamu pancing berbahaya, semakin mendidih darahmu untuk mengangkatnya ke kapal.

Setelah setengah jam, akhirnya ikan pari bisa tertangkap. Ketika ikan itu terbawa mendekat dengan kapal, nelayan yang sudah terbiasa dengan hal ini langsung menombak ikan tersebut, hingga tidak bergerak. Dan nelayan sisanya kemudian juga ikut terjun ke laut untuk menangkap ikan tersebut dengan jaring. Setelah jaring, ikan pari diangkat menggunakan jaring yang sudah diikat tali di atas kapal.

Ikan pari digeletakkan di geladak buritan kapal. Racun yang dibawah buntutnya sudah dihilangkan oleh nelayan. Aku kasihan, ikan pari ini termasuk hewan yang mulai berkurang keberadaannya. Tapi aku masih kecil, tidak bisa melakukan apa-apa. Aku cuma bisa melihat hewan ini mati di kapal ini. Ah, hari sudah gelap, wajar karena sekarang sudah pukul setengah 6. ini waktunya pulang. Sangat luar biasa penangkapan ikan pari ini sebagai ending perjalanan yang keren ini.

"Mau foto gak?" Tanya Ayah tiba-tiba.

"Gak, Yah. Badan ikan pari itu lebih besar daripada badanku yang sudah SMP ini."

Ayah, Paman Rano, Om Jono, dan Pakdhe Nono tertawa mendengar jawabanku. Saatnya kita pulang. Gelap mulai datang.

Monday, June 24, 2013

Memancing (Part 2)

Aku mulai bosan, hampir putus asa. Aku sudah dua jam tidak mendapatkan ikan. Tanganku pun sampai pegal, memegangi tali pancing ini. Perasaan, aku sudah sangat menghayati ini. Aku mencoba merasakan perasaan ikan yang akan memancing, perasaan ragu untuk memakan makanan yang tidak jelas darimana, tahu-tahu muncul begitu saja. Kemudian ikan itu mencoba mengadu nasib, dia tahu makanan itu kemungkinan adalah kail yang disediakan oleh manusia, tapi karena dia hanya tahu masalah makanan, dia ambil resiko itu. Ketika gerakan tali terasa sampai tanganku, akibat gigitan ikan tersebut, saat itulah aku menarik tali pancing ini. Sayangnya itu cuma perasaanku saja, perasaan itu selalu bisa salah.




Matahari sangat terik, aku merasakan panas yang belum pernah kurasakan ketika aku di darat. Panas matahari di tengah laut sangatlah luar biasa. Aku yang terbiasa bermain panas-panas ketika di lapangan, harus mengakui keganasan matahari. Kepalaku pusing, dan aku pun menjadi mual. Tidak ada pohon, tidak ada semilir angin, tidak ada awan, langit cerah. Ini benar-benar luar biasa.

"Ayah.."

"Kenapa, Brian?"

"Kepalaku pusing, mual, Yah." Aku benar-benar kepanasan. Padahal aku sudah memakai topi, tapi tidak menggunakan penutup topi di belakang kepalaku. Seperti yang dilakukan Ayahku dan saudaranya.

"Kamu kepanasan, Brian. Kamu tidur saja dulu sebentar. Sekitar sejam lagi kita akan makan siang. Nanti ayah bangunkan." Ayah memberiku handuk untuk dipakai sebagai bantal ketika aku tidur.

Aku berjalan menuju rumah kecil, di tengah kapal tersebut. Aku berjalan sambil berpegangan pinggir kapal, karena aku sudah sangat merasa pusing. Ternyata, di dalam rumah tersebut juga ada nelayan yang sedang tidur. Sepertinya, dia juga kepanasan seperti aku. Aku pun senang, karena punya teman yang juga kepanasan.

Aku merebahkan badanku, memang tidak ada bantal. Hanya ada lantai kapal yang terbuat dari kayu. Sayangnya, tempat ini tidak sesuai dengan perkiraanku. Aku pikir di rumah ini karena beratap, jadi bisa lebih sejuk daripada di luar. Ternyata aku salah, di dalam sini panas terik memang tidak terasa, tapi hawa panas masih ada. Ah, ini benar-benar siksaan yang luar biasa. Ditambah, rumah tersebut dekat dengan mesin kapal yang berbunyi nyaring dan berbau mesin, ah sungguh memabukkan. Mau tidak mau, aku harus tidur. Bagaimanapun keadaan yang ada. Kalau tidak aku akan mati lemas di sini. Aku melihat nelayan tersebut bisa tidur dengan pulas, aku juga percaya kalau aku juga bisa tidur dengan pulas. 

Susah memang awalnya, tapi aku pun akhirnya tertidur juga. 

***

"Brian, bangun. Sudah jam 2 siang. Ayok makan dulu. Nanti lanjut tidur lagi." Ayahku membangunkanku.

Aku yang merasa sudah nyaman tidur, akhirnya terbangun, dan benar-benar terbangun karena kondisinya membuatku terjaga dengan cepat. Apalagi selain bau mesin, hawa panas, dan bunyi mesin yang nyaring itu? Aku keluar dari rumah kecil tersebut, ternyata di depan rumah kecil itu dibuat atap dari terpal. Untuk tempat makan bersama di geladak kapal. Sepertinya, semuanya baru akan makan, semuanya sedang memegang piring di tangan mereka. Bau ikan goreng masuk ke dalam hidungku, ah, sangat enak. Aku melihat makanan yang tersedia di tengah semua orang. Apa? Yang ada cuma ikan goreng, nasi, dan bungkusan garam yang robek di ujungnya. Ini makanan apa? Masa hanya makan makanan yang seperti ini saja?

"Ayok, nak Brian. Disantap makanannya." Kata salah seorang nelayan yang disampingku.

"Tapi? Kenapa hanya seperti ini?"

"Dicoba saja dulu." Pakdhe Nono tersenyum padaku. Sepertinya Pakdhe tahu kalau aku kaget dengan makanan yang ada.

"Brian, yang ada sekarang hanya seperti ini. Dimakan saja. Enak kok, coba saja." Ayah juga menambahi kata-kata Pakdhe Nono. 

Aku akhirnya mencoba makanan yang tersedia. Aku ambil piring, kemudian mengambil nasi di panci. Mereka menanak nasi dengan menggunakan air laut. Aku mengambil ikan goreng, yang ikan itu adalah hasil pancingan yang sudah didapat tadi. Bentuk ikan ini sangat tidak menarik, kalau kamu tahu, ikan laut itu punya bentuk yang aneh-aneh. Aneh buat dimakan. Terlalu berwarna, dan sepertinya penuh duri.




"Loh, kok gitu aja? Itu ditambah garam juga, Brian. Biar maknyus." Saran Paman Rano.

"Kok kasih garam sih? Kan aneh nanti. Asin." Aku menolak untuk menambahkan garam.

"Dicoba dulu, Brian." Kata Paman Rano sambil tersenyum kepadaku.

Ah, terlalu banyak hal yang baru dan aneh di kapal ini. Aku tidak habis pikir dengan semua ini. Ternyata hidup di kapal itu mengerikan, hidup sebagai nelayan itu cukup keras. Memang tidak mungkin kita membawa  bekal yang macam-macam ke kapal. Takut basi. Juga itu terlalu mahal untuk seorang nelayan. Dengan makanan seperti ini saja sudah cukup bagi mereka. Hemat.

Aku menaburi nasi di piringku dengan garam. Aku awalnya tidak ingin memakan ini, tapi apa daya perutku sudah sangat lapar. Panas terik ini membuatku menjadi cepat lapar. Aku mengaduk nasi, sehingga garamnya bisa rata pada nasi. Aku mencoba suapan pertama, dengan menggunakan tangan. Aku menguyahnya dengan pelan. Luar biasa! Nasi garam ini luar biasa! Ini enak sekali! Aku juga mencoba ikan goreng, aku taburkan sedikit garam, dan ikan goreng ini juga luar biasa! Gurih sekali! Ah lidahku seakan tidak percaya apa yang sudah dia rasakan. Ini diluar bayanganku. Apakah ini pengaruh dari keadaan kapal yang memang sudah sangat tidak enak, jadi masakan yang sederhana ini terasa spektakuler?

"Enak banget, Paman! Yah, ini enak banget!" 

Paman Rano dan Ayah hanya tersenyum melihatku gembira seperti itu. Aku memakan nasi tersebut dengan lahap, dalam sekejap aku menghabiskan satu piring itu. Begitu juga dengan ikan goreng itu. Ah, syukurlah, masih banyak ikan goreng yang bisa kumakan.

"Kamu tahu, Brian? Hampir setiap hari nelayan hidup dari makanan seperti ini. Mereka berusaha berhemat, dengan mengorbankan dirinya untuk bisa menghidupi keluarganya dari menangkap ikan. Kamu bisa bayangkan setiap hari mereka makan makanan seperti ini. Mungkin, sekali seperti kamu tidak akan apa-apa, bagaimana kalau hampir setiap hari? Ini sangat tidak menyehatkan. Jadi kamu jauh lebih dari beruntung. Pinter-pinter bersyukur ya, Nak." Ayah mengelus kepalaku, "Makanan apapun akan lebih terasa nikmat apabila dimakan bersama-sama seperti ini. Benar kan?"

"Iya, Ayah." Aku mengangguk tanda setuju.

Awan mulai menutupi matahari, sehingga udara sekarang tidak terlalu panas. Udaranya sangat sejuk. "Ayok, mancing lagi. Sudah kenyang kan? Udara juga lagi enak. Siapa tahu sekarang bisa dapat." Ajak Ayah.

"Oke."

Memang benar apa kata ayah, aku harus pandai bersyukur. Aku memang mengakui makan makanan seperti ini enak, tapi aku tidak bisa menjamin akan selalu enak. Bisa saja di hari-hari tertentu, makanan seperti ini bisa terasa tidak enak. Aku menaruh piring yang sudah kumakan di tumpukan piring kotor. Aku pun mengambil kembali pancing rentak yang aku taruh dekat Ayah.

***

Kali ini, udara tidak sepanas tengah hari tadi. Walaupun sekarang jam setengah 3 tapi matahari tertutup awan. Sehingga panas tidak terlalu terasa. Aku menenggelamkan kailku. Kali ini, aku harus berhasil menangkap ikan. Aku berjanji pada diriku. Aku sengaja memberi umpan pada kailku lebih banyak daripada yang biasa. Satu kail, bisa kumasukkan dua jenis umpan, cacing dan udang. Aku menunggu. Aku yakin dengan feelingku kali ini. Aku rasa aku bisa mengerti ikan sekarang, setelah memakan ikan laut segar.

20 menit aku tunggu kailku. Belum ada gerakan yang ada pada tali pancingku. Aku percaya umpanku belum dimakan oleh ikan. Tiba-tiba, ada tarikan lembut pada tali pancingku. Sekejap, aku langsung menghentakkannya. Begitu aku selesai menghentakkannya tali pancingku seketika menegang. Aku mendapatkan ikan! Aku senang sekaligus grogi. Ikan ini bisa saja lepas kalau aku tidak hati-hati. Aku awalnya ingin memanggil ayah karena aku berhasil menarik ikan. Tapi aku ingin menunjukkan juga bahwa aku sudah besar. Aku bisa melakukan ini. 

Tali itu menegang sangat kuat. Aku berusaha menarik tali itu dengan kencang. Tapi aku ingat perkataan ayah, kalau mau menangkap ikan, kamu harus bisa merasakan pergerakan ikan tersebut. Aku langsung diam sejenak, dan menikmati tarikan ikan tersebut. Tali itu menarik ke kanan, kemudian ke kiri, berputar-putar sekitar tempat aku memancing. Aku membiarkan tali pancingku terulur kalau memang tali pancingku sangat kuat tarikannya. Begitu, pergerakan ikan sudah sedikit tenang, atau melemah. Aku langsung sekuat tenaga menariknya dengan cepat. Dan, benar! Ikan itu sudah lelah. Aku menariknya dengan mudah. Seperti ikan tersebut juga menuju ke arahku, sehingga aku tidak perlu tenaga yang besar untuk menariknya. 

Ikan tersebut sudah mulai terlihat ke permukaan. Wow! Ikan ini besar sekali! Panjangnya mungkin sekitar 35 cm. Tapi aku bingung bagaimana mengangkat ikan ini, tarikan ikan ini semakin berat ketika di permukaan air laut.

"Ayah, aku dapat ikan! Ini gimana cara ngangkatnya. Ikannya udah muncul di permukaan." Aku memanggil Ayah. 

Ayah kemudian mendatangiku, dengan membawa sebuah tongkat jaring. Tongkat jaring itu digunakan Ayah untuk mengangkat ikan tersebut ke atas kapal. Begitu ikan tersebut muncul kembali ke permukaan, Ayah langsung menangkap ikan itu dengan tongkat jaring. Ikan itupun tertangkap dengan sempurna, dengan kailku yang tersangkut di bibir ikan tersebut. Ayah kemudian mengambil ikan dari jaring tersebut, dan menaruhnya di geladak kapal.

"Coba, kamu lepas kail dari mulutnya. Pegang dulu ikannya dengan telapak tangan kirimu agar ikannya tidak berontak. Kemudian tarik kailnya dari mulutnya dengan tangan kananmu." Ayah menyuruhku melepas kailnya sendiri. Ini sungguh mengerikan. Ikan itu licin dan menggelikan, bahkan sisinya terasa sangat tajam bagiku, "Ayok coba dulu. Masa anak laki-laki penakut gitu."

Akhirnya aku mencoba juga saran Ayah. Aku menahan ikan itu dengan tangan kiriku, agar tidak loncat. Kemudian menggunakan tangan kananku untuk mencabut kail. Ah, ini sungguh menggelikan, menyeramkan. Aku tidak tega melihat kail yang menusuk di bibir ikan tersebut. Menarik kail ini sangat mengerikan.

"Yah, gak mau kecabut. Keras, geli."

"Ditarik aja, Nak. Memang agak keras. Terus aja dipaksa. Gunakan kekuatanmu."

"Tapi licin juga, Yah. Susah nariknya. Licin."

"Lap tanganmu dulu dengan ini." Ayah memberikanku handuknya. Aku membersihkan tanganku dari lendir kulit ikan ini, yang membuat licin tanganku.

Aku akhirnya mencoba terus menarik kail ini. Keras, seperti menancap dengan sempurna di mulut ikan tersebut. Kali ini aku menggunakan kekuatanku lebih kuat lagi. Dan, akhirnya kail tersebut bisa lepas dari mulut ikan tersebut.

"Aku berhasil, Ayah!"

Ayah tersenyum melihatku berhasil menyelesaikan tantangannya.


Bersambung..

Sunday, June 23, 2013

Memancing (Part 1)

Hueeeekkk.

Aku memuntahkan sarapanku ke dalam sebuah plastik hitam kecil yang memang sudah kupersiapkan di kantongku. Seketika, perutku merasa lega setelah memuntahkan isi perutku. Aku sepertinya dalam keadaan mabuk. Ayahku hanya tertawa melihatku mabuk seperti itu, sambil mengelus punggungku. "Baru satu jam saja di atas kapal sudah muntah, payah nih anak ayah."

"Yah, ombaknya gede banget. Kapalnya goyang parah. Ini lebih parah daripada naik bis kota. Selain itu, bau asap dari kapal ini juga membuatku sangat pusing dan mual." Aku kembali muntah, setelah menyanggah sindiran ayah. Ayah, Paman Rano, Om Jono, dan Pakdhe Nono tertawa ketika melihat mukaku yang lemas setelah beberapa kali muntah. Aku terkulai lemas di pinggir kapal. Ah, aku tidak suka mabuk laut.

Keluarga besarku sangat menyukai memancing, karena itulah hari minggu ini Ayah dan saudaranya menyewa kapal nelayan ini untuk pergi ke tengah laut demi menjalankan hobi yang sudah mereka kerjakan sejak muda.  Ayah sudah meluangkan waktu sejak lama untuk bisa menjalankan rencana ini. Aku yang penasaran, dan juga kebetulan diajak oleh Ayah, akupun juga ikut dalam pelayaran ini. Aku pikir, memancing dengan orang dewasa akan lebih seru daripada hanya menonton film kartun dari pagi hingga siang hari. 

Kami pergi ke dermaga kapal pada pukul 6 pagi, suasana pagi yang dingin menyambut kami, aku menikmati suasana pagi di tepi pantai seperti ini. Aroma laut, semilir angin, dan suara ombak, sungguh sangat menyegarkan.




Kapal nelayan ini cukup besar, ada sekitar 10 orang di dalam kapal ini. Aku, Ayah, Paman Rano, Om Jono, Pakdhe Nono, serta lima nelayan yang membantu untuk mengendarai kapal dan menemani kami dalam memancing. Kapal ini awalnya sangat tidak kupercaya bisa berlayar, karena memang cat kapal ini sudah banyak yang luntur, kapal ini jelas sudah lama berlayar di laut. Apalagi ketika awal perjalanan, kapal ini bergoyang cukup mengerikan. Aku hanya bisa berdoa komat-kamit sambil memegang pinggiran kapal. Untung saja kapal hanya bergoyang hebat di awal perjalanan. Di tengah kapal ini ada rumah kecil untuk menyimpan barang, dan juga tempat beristirahat. Sayang, rumah kecil ini hanya cukup untuk 3 orang di dalamnya. Kapal ini menggunakan mesin diesel untuk bergerak, karena itu juga yang membuatku mabuk lautku bertambah parah.

Kapal ini membutuhkan sekitar 3 jam untuk bisa sampai di titik memancing di tengah laut. Sembari menunggu kapal berhenti di titik memancing, kami sarapan bersama. Walaupun kami sudah sarapan di rumah sebelum pergi, kami harus makan lagi setelah 2 jam perjalanan, karena sengatan panas di tengah laut bisa membuat energi lebih cepat habis. Jadi kami tidak boleh dalam keadaan yang lapar. Apalagi aku yang habis memuntahkan seluruh isi perutku. Kami memakan bekal sarapan yang sudah kami bawa, Ayah juga membagikan sarapan kepada nelayan yang menemani kami. Kami makan bersama di geladak utama kapal. Ah, masakan Ibu memang paling enak.

Setelah kami menghabiskan makan, Ayah dan saudaranya mempersiapkan alat untuk memancing. Pakdhe Nono dan Om Jono menggunakan tongkat pancing dengan satu kail, sedangkan Ayah dan Paman Rano menggunakan tali pancing yang memiliki banyak kail, kemudian digulung menjadi sebuah gulungan. Biasanya ini dinamakan pancing rentak atau pancing ulur, karena terdiri dari banyak kail, sehingga sekali memancing bisa mendapatkan banyak ikan sekaligus. 

Setelah menyiapkan alat memancing, kemudian di setiap ujung tali pancing dipasang pemberat, sehingga ketika kail dilemparkan ke laut, bisa langsung tenggelam. Karena aku tidak bisa membantu dalam mempersiapkan alat pancing, karena memang dalam urusan mengikat tali pancingan juga membutuhkan skill tertentu. Aku tidak bisa tali-menali, aku menyesal tidak serius dalam mengikuti pramuka. Akhirnya aku hanya menyiapkan umpan untuk memancing, seperti cacing, udang, dan cumi-cumi. Aku memotong umpan cumi-cumi tersebut menjadi kecil-kecil, karena cumi-cumi terlalu besar untuk sekali memancing.

"Bisa gak tuh motong umpannya?" Om Jono melihatku yang sedang memotong cumi-cumi. Tapi sepertinya pertanyaan tersebut mengandung sindirian. Entah, mungkin karena aku memotong cumi-cumi ini tidak rapi, ada yang kebesaran, ada yang kekecilan.

"Bisa kok, Om. Nih, bahkan ada yang bentuknya kayak ikan teri." Aku sambil mengambil salah satu potongan cumi-cumi tersebut, dan memperlihatkannya kepada Om Jono.

"Ah, anak om yang masih 3 bulan saja bisa kalau cuma motong gitu."

Aku menggembungkan pipiku, tanda aku kesal dengan sindiran Om Jono. Om Jono hanya tertawa melihatku seperti itu.

Setelah 3 jam perjalanan akhirnya kapal kami mulai berhenti di titik tertentu. Aku tidak begitu tahu dimana kami berhenti ini, yang jelas sejauh mata memandang hanya ada lautan. Laut begitu tenang, ombakpun tidak terlalu besar, sangat berbeda di awal perjalanan. Tidak ada apa-apa, tidak ada daratan yang terlihat, dan jelas tidak ada sinyal. Untung saja panas belum begitu terik, karena ini masih jam 10 pagi. Suara mesin kapal yang dari tadi menemani kami, sekarang telah hilang. Kami berhenti total.

"Ayah, ayok mancing! Dimana alat pancing untukku?"

"Ini, nak. Tapi sebelum itu ayah ajarkan bagaimana cara memancing."

"Siap, ayah!"

"Jadi, kailnya kan ada banyak. Nah masing-masing kail diberi umpan. Terserah, mau udang, cacing, atau cumi." Ayah menjelaskan kepadaku sambil menunjukkan cara menaruh umpan pada kail. "Setelah diberi umpan, kamu tinggal menenggelamkan kail ini. Ketika sudah cukup dalam, dikira-kira saja, kamu tunggu sampai tali pancing yang kamu pegang ditarik. Ketika sudah merasa ditarik, kamu harus memberi hentakan pada talimu, agar ikan yang awalnya hanya terkena kail sedikit, bisa terkena lebih pasti oleh kailnya."

"Siap!"

Ayah tersenyum melihat aku berteriak mengerti, padahal aku sebenarnya belum begitu mengerti. Ah, tapi kalau tidak langsung dicoba aku tidak akan tahu bagaimana cara memancing.

***

Aku berkali-kali gagal menarik ikan, sedangkan Ayah, Pakdhe Nono, Om Jono, dan Paman Rano sudah mulai memamerkan hasil tangkapannya. Aku tidak begitu tahu apa nama ikan yang mereka tangkap. Yang jelas ikan itu cukup besar. Ayah dan Paman Rano yang menggunakan pancing rentak, lebih banyak mendapatkan ikan. Sedangkan aku? Aku sudah menggunakan pancing rentak, tapi belum satupun ikan yang kudapat. Aku hanya mendapatkan kailku kosong, umpan sudah dimakan oleh ikan, tanpa terjebak oleh kailku.

"Yah, kenapa aku masih belum dapat?"

"Sabar. Memancing itu memang butuh kesabaran yang lebih. Yang kamu butuhkan adalah feel menangkap ikan. Kamu tidak akan bisa menangkap ikan, kalau kamu tidak bisa menghayati proses memancing ini."

Aku tidak mengerti.


Bersambung..